03 July 2009

Sang Jenderal Bengek


Perang yang paling seru itu menyita seluruh petinggi negeri liliput yang bernama hati!! Tanpa gemerincing suara tombak… tanpa desingan peluru.. nyatanya mampu merobek tatanan hingga yang paling dasar. Face to face aku selalu berhadapan dengan desertir-desertir kecil yang nyelip di lingkar kearifan dan kebijaksanaanku sendiri. Tanpa jeda serangan halus namun dahsyat itu terus berhamburan dan beruntun. Menggelayut manja seakan tidak sembada … namun bekasnya mampu melumpuhkan seluruh akal budi.

Jika ada disiplin ilmu… apa namanya? Moral? Agama? Pekerti? Seberapa kuat pengaruhnya? Bicaralah realita saja! Setan-setan kecil itu lebih kuat ternyata.. lebih pro modernitas. Lebih familiar dengan gaya hidup glamour, kebebasan, dan unlimitted humanisme. Jika memaksakan pendapat bahwa setan-setan itu gentayangan gara-gara perut lapar, apakah yang perutnya kenyang aman dari serangannya..?? Bukan jaminan nyatanya. Lha terus harus bagaimana?? Ruang manakah yang mampu meredam nyala-nyala kecil itu agar tidak menjadi pembakar yang nyata?

Topo ngrame..!
Kenalilah dirimu … ada sang jenderal yang tersisih. Jika kita arif bijaksana tengoklah dia. Dialah satrio piningit yang sebenarnya… yang bersembunyi di kehalusan dan kebenaran hakiki. Jenderal wingking yang bengek dan selalu tertindas.. jamus Kalimosodho yang digenggamnya sering (bahkan kebanyakan) tidak terhunus. Jamus yang kemilau itu sekarang karatan ..!! Suaranya hanya keras di makna saja… setan-setan disertir itu bahkan tidak pernah menggubrisnya. Bweeh…!! Tatanan ini sudah terbalik-balik .. mengingkari kodrat penciptaan.

Sang jenderalpun lunglai duduk dipojokkan ruang sidang melihat tingkah polah prajurit-prajurit kecilnya jingkrat-jingkrak mempermainkan tongkat komandonya yang kian rapuh. Sementara pertanggungjawaban itu beringsut mendekatinya... dari waktu ke waktu.

** Topo Ngrame = Bertapa di keramaian. menahan nafsu dalam kehidupan sehari-hari.
** wingking = belakang
( Essay ringan disela-sela kesibukan ... Mohon maaf jika belum sempat membalas kunjungan anda.)
Read More..

11 June 2009

Tembang Kehidupan II


Lir ilir, lir ilir, ada yang berdenyut-denyut nglilir menjadi setitik zygot, setelah peniupan kemudian mengalun pasrah atas nama sang pengutus, mengapung pasrah di lautan berkah. Hingga pada saatnya nglilir tumbuh menggelinjang kontraktif, menendang-meninju dinding pembatas alam eksisten. Genit tanpa tingkah, menggelitik merayu tanpa kata... nuansa yang membuat bahagia dan tergopoh-gopoh. Diamnya kadang begitu yakin, seperti paham kehadirannya diharap-harap dan akan turut menjadi saksi. Seakan tahu pasti kemana, untuk apa, karena apa, dengan siapa dia akan melintas alam. Sangkala pun melengking panjang ... Bersiaplah jadi utusan bagi umatmu, pangon tumrap kawulo.
Lir-ilir .. bangunlah dari persemaianmu. Ajaklah serta karib-karibmu untuk berkemas... Kenalilah mereka baik-baik.... karena peristiwa itu hanya akan menjadi sebingkai cermin kusam berlepotan noktah, yang menjadi konsumsi orang-orang gila di sudut ruang kecil…. Ya hanya si gila yang mau bercermin pada peristiwa sebelum kiamat itu.

Tangismu merobek dataran tandus di dada kedua orang tua genetikmu... hujan tangis bahagia mengalahkan rasa sayatan dan peluh derita itu!
Suka tidak suka ... telah tiba saatmu terlepas dari cangkang garba.
Menepilah..! Menapaklah di dataran sebab akibat, Lautan Rahmat ‘kakang tanpa rasa’ itu telah tercerai berai mangejawantah di bawah alam sadarmu dan takzim meniup saksophone suar, mengisi interval-interval kosong hidupmu ..
Kunyahlah dengan geraham dan mulut ragamu segala tetek bengek kebutuhanmu. Lumbung logistikmu tak lagi mengucur langsung ke penjuru syaraf dan nadimu, physically cut off !! Sementara sang pembawa hidup seketika independent menelusur seluruh lorong nadi seperti derap pasukan merah... bersambut gayung dengan setiap tarikan dan hembusan nafas.
Sedangkan krenteging nyat telah bypass antaramu dengan Nya... bukan lagi wujud nyidam, segera berubah menjadi rengekan dan saatnya kelak harus kau panjat sendiri. Belajarlah berjalan di atas hamparan tanah ibumu, belajarlah berucap di ruang udara bapakmu, saksikanlah dengan ainul yaqin bahwa wilayahmu kelak bukan hanya basic instinct, karena ada cipta, ada rasa, ada budi dan ada karsa. Di hentakkan jantungmu menyatu nafs, berupa sekumpulan kawulo yang selayaknya kau terima sebagai wadyabala carakaning pangeran. Tumbuhlah akal hidup dan biarkan akarmu mulai menukik memproklamirkan diri di permukaan ibu bumi “Tandure wus sumilir” Si jabang premordial telah tumbuh menghijau dan menghuni bapa ruang, mengaru-biru berebut kesempatan tumbuh menjadi sebuah pribadi yang ijo royo-royo.

Tak ijo royo royo, berdirilah di puncak kulminasi usiamu....
Gemilang pancaroba ini, gembalakanlah wadyabalamu di pematang kaidah, jangan biarkan menyeberangi parit kebijaksanaan. Ngono yo ngono ning ojo ngono, segala sesuatu ada takaran dan trapnya, jangan biarkan mereka liar merusak tandur yang ijo royo-royo itu. Siangi dengan kidung ilahiah yang dititipkan di dahan dan ranting pohon belimbing yang tumbuh di depan surau itu. Jangan ciptakan pertikaian karena ijab qobul penyatuan telah jatuh syah saat terjadinya tiupan pengutusan. Tak sengguh temanten anyar ketika mereka balance satu sama lain kaya mimi lan mintuna, padahal lama sejak pertemuan dan penyatuan itu sang mempelai pria-lahir dan wanita-bathin telah duduk di pelaminannya, bahkan sebelum kiamat itu. Rias saja ke empat pagar ayu domasnya secantik mungkin. Aluamah yang berpakaian hitam, amarah yang berpakaian merah, supiah yang berpakaian kuning dan mutmainah yang berpakaian putih.

Cah angon, cah angon, bimbinglah mereka untuk tunduk kepada kedua mempelai, dan jika ulah mereka mengotori dodot ageman sang pengantin segera penekna blimbing kuwi untuk mencucinya. Lunyu lunyu penekna, seberat apapun panjatlah kanggo basuh dodot ira agar tetap cemerlang. Dodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggir compang-camping di syak keragu-raguanmu. Agemanmu adalah pelindung, bekal, catatan bhaktimu, maka Dondomana, jlumatana, kanggo seba pada pasowanan agung mengko sore.
Mumpung padhang rembulane, selagi masih kau genggam potensi olah cipta, rahsa, budi dan karsa di pusat kemanusiaanmu. Mumpung jembar kalangane selagi masih terbentang ruang kesempatan.. Jangan terbuai oleh pesona dunia dan segala kemilau semunya.
Ya suraka, surak hiya ...!! Serulah nama tuhanmu, serulah hingga ke ruang-ruang sempit di lipatan-lipatan nuranimu.
Read More..

01 June 2009

Tembang Kehidupan


Sembari mematut angan… mengenangmu adalah seperti kembali terjebak di alunan Ladrang Asmaradahana….. Menampik!. Menghalau! Meronta bak awan yang terburu angin…bergulung lalu luruh mendayu.. seperti tarian rasa yang melukis kesedihan di langit dengan senyumanmu.
Antara kilatan senyummu dan langkahku tidak lebih sedepa atau kurang… sia-sia saja, seperti menyulam angin menjadi hamparan nasib.. tak pernah klimaks asaku yang tersangkut di lurus hitam rambutmu dulu. Tembang Sinom yang melintas miskin kesan.

Dawai gitar saksi dentingan hatiku pun telah lama putus dihentak kerasnya jaman, kita kepalang pisah dan tiada sempat berucap pesan. Bunga jati pun berguguran menutup jejak kita..lalu hujan meratakannya. Tanpa kesan dan tiada kata.. lempang, sunyi, ngelangut menyasar ke relung paling sepi. Tembang Gambuh iku bukan milik kita.

Palu paman Pande Besi gemerentang nyaring mengusik paksa dengkur kumalku. Sekian pagi lewat tanpa sehelai pun bayangan tentangmu lagi, berlalu pelan seperti kemarin dan kemarinnya dan…kemarinnya lagi.
Roda kayu yang berderit di jalan becek di samping kepulan mimpiku itu terhuyung karena ulah batuan nakal… kemudian meninggalkan bekas gemetar di tanah …Aah..! Masih terlalu malam untuk sebuah perjalanan kawan!. Segera ku susul engkau jika bang wetan telah penuh dengan lautan cahaya... tak perlu bergumam kawan, nanti kita bersama nembang Durma keras-keras di sepanjang bhekti.

Hibernasi ini adalah Senandung Pangkur yang mulai terang-terangan menelanjangi satu persatu hasrat amatiran yang udik dan rendahan. Sebuah realita yang sudah awam ku kunyah, walau belum sempat ku telan tanpa rasa.
Sejarak bersama waktu memungkinkan otakku belajar untuk tidak membelit pangkal kesadaran ini dengan setan kecil bernama Syahwat Birahi berkedok Cinta .., biarlah “what ever will be, will be”. Busur itu telah lacur melesat dari sang gendewa … tanpa pernah mampu memilih apa-siapa sasaran di depannya. Busur yang malang ataukah busur yang pasrah? Sedangkan dia tunai-ikhlas pada lintasan yang telah dilaluinya, bersama-sama yang lain bergumam syair Kinanthi…..jamaah. Betapanya terlukis jumawa dan agung indahnya ketentuan dari Yang Maha Menentukkan takdir.

Kukuruyuuuuk…!!!

Sumpah serapahku … untung kau bangunkan aku ayam penyibuk!!
Kulipat putih mimpiku… cunthel sudah alunan Dandanggulo itu, bergegas ke “padasan” lalu bersama dingin pagi yang mengigil, ku rogohi kerak ngambu-ambu kesalahan dari lubang hidungku, ku kumuri busuk ucapanku, ku basuh kepura-puraan di mukaku… ku cuci kejahilan tangan-tanganku, …. ku seka otak kotorku, ku gosok suka-nguping telingaku …… terakhir ku guyur kosok langkah-langkah nista kakiku …
Terakhir lagi, sudahkah sesuci sinar rembulan-yang masih tersisa di angin pagi itu- ya Tuhanku ?
“Lebay..!! Mimpi kali..!! Mbok ngaca..! Bercermin! Hahahaha”. Ada yang terpingkal-pingkal sampai guling-guling di lantai (rofl). Aku tercenung sejenak dan berbisik lirih
“Tolong jaga mulut busukmu!” ancamku lirih dan tetap menunduk (doh). Aku sadar memang berlebihan rasanya berharap untuk suci diri. Sebegitu gampangnya aku terpancing amarah oleh pembisik laknat itu. Tapi biarlah, aku berhak membela diri.
“Hey, aku tahu asalku dari setetes air mani (yang aku heran kenapa dihinakan?) dan di dalam perutku bermukim kotoranku dan najisku sendiri”, tetap kutahan suaraku agar sepelan mungkin. “Ketahuilah aku adalah Maskumambang titah Gusti Yang Maha Kuasa.. yang mijil sebagai khalifah di muka bumi ini….. !
Ku dengar sesenggukan menahan tawa dan akhirnya (lmao).
“Bwaahahaha…!! Makhluk sepertimu mengaku Khalifah? Ndak punya malu babar blas..!!” pembisik laknat itu enak saja jingkrak-jingkrak di antara aku dan Tuhanku.
Harusnya ku diamkan saja, karena pembisik itu memang tidak lebih adalah bentuk besarku sendiri. Hah..!!
Aku dipermalukannya di atas hamparan sajadahku sendiri, setan alas..!!.Laknat..!! Kucari-cari di sekelilingku bentuk kecilku yang paling ringkih… dan paling sering ku khianati sendiri. Hari ini aku ingin dekat denganmu karib kecilku.. sampai nanti Megatruh.
Mencoba menarik napas panjang sebisaku… mencoba lerem sebisaku.. rasanya seperti menarik beban selaksa kuintal, ku coba mengingat suara di pohon jati di samping pusara kakekku dulu.

“Samubarang kang tipise kaya ngapa yen mbok kandeli ( ngandel ) bakal dadi kandel le..”

Aku tak pernah paham maksudnya… tapi kini, ulah pembisik laknat itu mengajariku…

Pucung.

Batam, 01 Juni 2009
Read More..

24 May 2009

Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Sebuah judul tulisan kontest SEO yang diselenggarakan oleh beritajitu.com, yang sangat bernilai mulia. Pada awalnya saya sendiri kurang tertarik untuk mengikutinya, namun saya tergelitik untuk menulis setelah kejadian pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 kemarin. Karena menurut saya Judul Kontes "Mengembalikan Jati Diri Bangsa" ini sangat relevan untuk diulas dengan kejadian tragedi anarkhis tersebut. Bahkan sepertinya pihak penyelenggara sangat tepat waktu meluncurkan kontes ini (seakan) bersamaan dengan tragedi kemanusian yang memalukan itu.
Kalau untuk urusan SEO.. ampun dah...! Saya masih cupu dan tidak menargetkan apapun, jangankan untuk menang... untuk bertengger di halaman satu rasanya musykil hehehe...
Kata "mengembalikan" jika dipasangankan dengan "Jati Diri Bangsa" maka maknanya menyentuh pemahaman yang menari di daerah red-zone kekhawatiran bersama, bahwa kita sebagai sebuah bangsa tengah kehilangan "Jati Diri".
Pertanyaannya, "Jati Diri" yang seperti apakah yang telah hilang itu? Apakah kita pernah memilikkinya..? Kita sadarkan diri dulu sebentuk kesamaan pandang tentang sosok "Jati Diri" ini. Jati diri mungkin bermakna "nilai-nilai dasar kepribadian" atau mungkin core self values yang jika disandingkan dengan kehidupan berbangsa, maka bermakna nilai-nilai dasar pribadi sebuah bangsa. Kembali ke pertanyaan di atas, bagian mana jati diri kita yang telah raib dan perlu di kembalikan itu? Jawabnya mengharuskan kita mengkorek-korek lagi tumpukan sejarah. Karena sebenarnya para pendiri bangsa ini telah meletakkan fondasi berupa Pancasila sebagai core of nation dan acuan dasar berbangsa dan bernegara. Benarkah Pancasila telah hilang? Sosok Pancasila tidak pernah hilang, namun jiwa dan nilai yang terkandung memang mulai pudar dan menguap.. Saat ini tanpa kesan sama sekali dan sedikit demi sedikit terpuruk di "gudang penyimpanan" kaidah cara berfikir anak bangsa. Tertimbun oleh barang import "ideologi-ideologi pragmatis" yang datangnya dari "negeri-negeri gemerlap" atau bahkan yang datang dari "negeri-negeri culun". Pancasila dan segala nilai universalnya nyatanya seperti tuan rumah yang tersingkir dan dipijak-ditendang oleh perseteruan ideologi antara negeri gemerlap yang bebas tak mengenal batas dengan jas munafiknya yang bernama Liberalis-Humanis dengan negeri culun yang sok suci dengan jubah munafiknya yang bernama anti modernitas.

Pancasilakah jati diri bangsa kita..?
Jika kita jawab bukan, mari kita tengok pada jaman manakah jati diri bangsa ini pernah eksis merasuk dan menaungi bangsa ini?
Silahkan pilih, pada jaman pra kolonialis, kolonialis atau kapan? Bahkan pada rentang warsa kerajaan-kerajaan pra kolonialis bertahta, pijakan cara berfikir bangsa kita justru terpuruk di ujung terendah tangga-tangga feodalisme dan menjadi keset berlaganya intrik kaum ningrat hedonis dari dalam tembok istana. Tembok istana nyatanya mampu memaksa tumbuh suburnya pilah-pilah kasta. Lalu masuk rentang warsa kolonialis yang semakin membuat buram potret “Jati Diri Bangsa" ini dan menciut-kecut di ujung pedang dan meriam kaum imperialis barat. Di penghujung kekuasaan imperialis barat, ada "saudara dari timur" yang berlagak sok “nyedulur” dan memompakan semangat nasionalis yang ternyata malah menikam. Namun pada masa-masa yang sama para pionir dan cerdik pandai bangsa ini mampu menghidupkan lima “Jati Diri Bangsa” yang menjadi ruh berdirinya sebuah Negara dan rasa kebangsaan yang baru. Sejalan dengan waktu ternyata kita sendiri saat ini mulai risih untuk membaca, apalagi menghapal... boro-boro juga mengamalkan dan menjiwai nilai-nilai luhurnya ke dalam hidup kita. Atau mungkin kita masih akan mengingkari dan menolak keberadaannya hanya karena melihat “sepenggal jati diri” bangsa lain yang belum tentu mampu menghadirkan ruh persatuan atas kesatuan bangsa ini? Jika memang jawabannya “iya” maka wajar jika kita merasa “kehilangan”. Wajar juga jati diri bangsa ini yang katanya penuh rasa “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, penuh “Musyawarah untuk mufakat” telah lesap berganti dengan jatidiri yang beringas dan lebih senang memaksakan kehendak dan seenaknya menginjak-injak rasa kemanusiaan demi sepenggal ideologi yang dianggapnya benar. Maka sikap masa bodoh yang tegaan dan merasa gagah jika mampu membom dinding rumah sendiri!! Atau bahkan sebaliknya tumbuh suburnya pola-pola pikir hedonis baru yang menggiring tingkah laku generasi muda menjadi liar dan jauh dari norma-norma sosial dan ketuhanan…. Yang lebih merasa wah dan mentereng jika disebut modern dan bertingkah seperti mereka. Lebih parah lagi fenomena rusaknya mental kaum birokrat atau pribadi-pribadi pemuka bangsa yang semakin rakus harta dan rakus kekuasaan seakan-akan jatidiri “Ketuhanan Yang maha Esa” dan “Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat” hanya pajangan belaka!

Polah tingkah bangsa ini adalah sebuah drama hidup yang mengalir di dalam kungkungan lorong budaya. Ada yang menukik menggerus simpati dan melonjak mencakar emosi!
Tatanan seperti apakah yang tengah menggeliat mencari jalan untuk lahir... masing-masing kita adalah bagian dari perubahan itu. Jika kemudian calon-calon pemegang tongkat estafet bangsa ini lebih senang berkaca pada kemilau gaya hidup bebas orang lain atau bahkan terjebak terhadap gaya hidup yang homogen dan naif yang tidak sesuai dengan peri kehidupan bangsa yang beragam ini.

Entahlah bangsa ini seperti bangsa yang bingung.... ada yang teriak ke barat .. semua ribut berebut ke barat, ada yang teriak ke timur... semua sibuk berebut ke timur. Ada yang teriak anti Neo Liberalisme ... semua sibuk anti paham itu! Ada yang teriak Anti Sosialis semua sibuk anti paham itu. Bangsa ini seperti kumpulan manusia yang sukanya menghujat... suka mencari kesalahan kesana-sini. Sejarah sudah berbicara banyak, siapapun pemimpinnya pasti jatuhnya dalam kubangan aib dan mandi hujatan. Nilai luhur yang pernah digaungkan kampium pendiri bangsa ini “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya” seperti tinggal kenangan. Semua sibuk adu pintar menghujat sana-sini... bertingkah seolah mereka paling pintar mengatur negara, seolah mereka paling kuat imannya menghadapi godaan Harta-Tahta-Wanita. Masih ingat ketika Pancasila digalakkan untuk ditanamkan ke moral kehidupan bangsa dulu, mereka yang merasa intelek beramai-ramai menolaknya... nah sekarang setelah generasi muda mulai tidak kenal dan bahkan kerepotan untuk menyebutkan urut-urutan tiap silanya yang cuma lima gelintir itu... kemudian semua sibuk merasa kehilangan jati diri.
Yah kita sedang beramai-ramai merasa kehilangan... Lalu kita ini sebenarnya sedang kehilangan “Jati Diri” yang mana?

Mari kita mawas diri.. realitanya kita tetap butuh acuan dasar berupa Visi dan Misi dalam berbangsa dan bernegara. Mari kita menjadi bangsa yang besar dengan menghargai kembali warisan para pendiri bangsa agar “Jati Diri Bangsa” ini bukan hanya berupa uthopia tanpa bentuk. Jika kelima poin itu dirasa tidak tepat mewakili perwujudan “Jati Diri Bangsa" ini ... maka komitmen bangsa yang mana yang dapat kita sepakati menjadi Pemersatu, dan Pegangan bersama dalam menjalankan segala peri kehidupan bangsa yang tidak mengekor pola hidup liar bangsa lain? Wallahua’lam....... Read More..