10 December 2010

The Choice

Terbebas dari belenggu penjajah kecil bernama "harap yang tak jelas" membuatku serasa bisa terbang bebas menembus batas cakrawala manapun. Nafas-nafas segar serasa menari di dedaunan hijau dan bunga-bunga penuh embun keyakinan. Ternyata, bermain-main dengan istana pasir di tepian ombak yang menggulung tiada pernah membuat nyaman perasaan. Andai saja matahari tidak terlalu lama tertutup mendung, pasti aku kan menyadarinya sedini mungkin untuk tidak menyia-nyiakan persepsi dan jatah waktu hidupku. Ketololan logikaku memang belum sepenuhnya menjadi sebuah kubangan lumpur, dan bersyukur saat ku temukan kini telah mengeras dan pecah-pecah sebelum mengotori seluruh baju dan keyakinanku. Ringan sekali, serasa menari di angin, langkah ini bergantian meninggalkan semua bayangan ilusi bersaput hidangan semu itu.

Kembali menengok ke belakang, bagiku tak lebih seperti menengok bangkai busuk yang terkemas kain sutera, dan aku sangat tidak peduli jika itu semakin membusuk sekali pun. Hahaha... dan aku kini menganggap semua itu seperti tidak pernah singgah di beranda rumahku! Bukankah setiap perjalanan selalu membutuhkan konsekuensi? Ada yang terus berjalan menggulung nafas kita dan setiap saat melambaikan tangan kawan, ada yang mesti dipertanggung-jawabkan selain mengejar buih-buih ombak yang tak pasti dan kosong belaka. Dan kuputuskan aku harus menjadi hakim bagi diriku sendiri, ketika dalam diriku ada dua kekuatan - sisi baik dan buruk mulai berebut kuasa. Yang haq tidak pernah bisa bercampur dengan yang bathil.Ternyata keindahan hakiki selamanya tidak pernah bersemayam di tumpukan desah-desah khianat.

Kenapa terus meratapi nasib dan terus berusaha lari dari kenyataan tanpa pernah berusaha untuk merubahnya persepsi diri?  Jika pagi hari - di awal-awal perjalanan sudah dilanda kepenatan jiwa dan menyerah kepada dorongan hasrat tanpa logika, lantas makna apa yang kelak akan dikenang menjadi sejarah hidup? Jadilah contoh seperti bunga-bunga yang indah dan wanginya luruh hanya untuk berkorban demi buah yang kelak meneruskan hidup speciesnya. Itulah hakekat perjuangan hidup! Sia-sia saja kau berteriak memohon belas kasihan, jika di belakang tingkahmu malah membakar benih-benih penerimaan yang selalu tumbuh itu.

Ah sudahlah, memang bukan hal yang mudah untuk melepaskan diri dari belitan kain kusam busuk yang seakan berhias intan itu. Dalam diri kita toh sudah terinstall pengalaman, naluri dan kebijaksanaan, di mana gabungan ketiganya itulah yang bernama ilmu hidup, selanjutnya denga ilmu itulah kita menentukan pilihan hidup. Ya pilihan hidup itu ada di tangan kita masing-masing, dan jika sudah memilih maka peliharalah seluruh tanaman di halamannya sampai ajal merenggut, karena ada kehormatan diri di balik pengorbanan itu. 

Selamat menikmat sepuas-puasnya jika ternyata kau masih merasa aman hidup diombang-ambing oleh si busuk bertampang manis itu, nikmati saja setiap hempasannya.... sesaat hidup di awang-awang dan terhempas ke batuan keras beberapa saat yang lain. Andai saja ada kesadaran bahwa kita tidak pernah bisa sempurna berpijak di dua lantai yang berbeda dan berseberangan itu kawan. 

What you give is you get! Jika kau tanam keladi maka jangan berharap kau panen padi, karena apa yang kau tanam adalah gambaran nyata apa yang akan kau panen. Read More..