Tak perlu merasa terjauhkan oleh harap, tak perlu merasa terasingkan oleh suasana sekitar, ketika jalanan menemui tikungan sempit dan gelap, tetap jalani saja dengan tenang sampai ada cahaya yang menyinar dan mendesak gelap pepat ke tepian napas. Hati adalah cermin yang secara naluriah akan memancarkan semua tangkapan bentuk visual eksternal kenyataan, sayangnya kualitas pantulannya sangat dipengaruhi oleh distorsi perasaan, sehingga kadang pantulannya terdifraksi dan membentuk opini pribadi yang sangat subyektif.
Read More..
Showing posts with label Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Show all posts
Showing posts with label Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Show all posts
13 May 2011
06 November 2009
Pagar Makan Tanaman

Becik ketitik ala ketara, sing salah seleh… sebuah ungkapan masyarakat Jawa ketika terjebak dalam upaya penyelesaian konflik yang ruwet dan tidak menentu. Sebuah konsep kepasrahan yang percaya bahwa hakim alam pasti akan tampil menyaru peradilan manusia dan memaksa siapapun yang salah untuk seleh .. menyerah pada kebenaran.
Silahkan sembunyi di balik tebalnya tembok arogansi, silahkan putar balik hukum semaunya… Silahkan beranggapan uniform kekuasaan itu tak terbendung oleh apapun…. Hakim alam Yang Maha Kalem sedang mengadakan gelar perkara dengan caranya sendiri… Ndak peduli dengan ketidak sabaran manusia, yang selalu menyangka aman karena akan hidup seribu tahun lagi… Padahal salah besar!!! Sejatinya kehidupan ini tak berbilang tuan-tuan yang terhormat, kekal… bukan hanya dalam kurun waktu ribuan tahun saja. Lalu selebihnya panggung seperti apakah..? Adalah panggung yang warnanya lugas ditentukan oleh warna kinimu…..!
Sekumpulan reptile yang berebut bangkai ternyata lebih jujur, dan alami mengalir di ketiak naluriah… Seliar-liarnya mereka, satwa-satwa reptile itu tidak akan pernah menjadi Pagar Makan Tanaman… Sing salah bakal seleh… biarkan hukum manusia dipermak dan direkayasa menjadi hukum kompromi yang ngambang dan bisa dibikin memantul elastic dan dipaksa menjadi kerdil untuk dijungkir-balikkan kesana-kemari… Jika hukum buatan manusia sudah compang camping justru oleh sekelompok oknum-oknum yang mestinya bermandat sebagai penegak hukum, maka mari kita tunggu saja hukum alam, karena itu adalah sebuah keniscayaan! Kita ini memang angkuh -- tidak pernah mau berkaca dan belajar dari rangkaian tragedi dan bencana yang baru saja terjadi… ya baru saja terjadi…!! Bahkan dampaknya pun belum lagi beres penanganannya.
Coreng moreng sudah wajah negri kami, luluh lantak kebanggaan itu.. ketika pagar telah rakus dan serakah memakan tanamannya sendiri, betapa nanar tatapan kami, tidak tahu lagi mau mempercayakan kepada siapa lagi hegemoni hukum… dan mahkota keadilan ini. Hukum kami ternyata menjadi taruhan dalam permainan kepentingan pribadi sekelompok juru pagar, mahkotanya suram belepotan noda dan nista. Tak lagi garang dan berwibawa, karena sudah terbalut oleh lembaran-lembaran rupiah yang membutakan. Kata “Mengadili” ternyata tidak pernah memberi atau bahkan menawarkan rasa dan harkat keadilan sama sekali. Neracanya telah oleng kesana kemari dipaksa oleh rekayasa yang menistakan.
Beramai-ramailah membela diri… rapat-rapatlah menyimpan bangkai…..!! Kami yang bodoh dan kecil ini hanya percaya “Ada asap pasti ada api”.
Kami benar-benar kebingungan, masih adakah yang bisa dipercaya? Yang ada hanya topeng-topeng misterius yang tampaknya suci dan jumawa menutupi mata-mata liar yang jelalatan dan rakus. Tikus-tikus rakus itu ternyata paham betul dengan mental-mental di balik topeng-topeng itu, demi untung besar segala cara dilakukan untuk membobol pematang naluri mereka dan sedapat mungkin bisa menganyam rangkaian perkronian dengan mereka. Maka ketahuilah! Yang kalian incar dan jarah itu adalah keringat rakyat negeri ini, bukan harta karun yang nongol begitu saja dari perut bumi.
Selayaknya matahari telah sejengkal di atas kepala… komodo, buaya, biawak, kadal, tokek, iguana, cicak.. saling terkam …. Tanah kami sudah seperti sarang reptile yang liar berebut bangkai, saling mencakar kedok masing-masing… ha..ha..ha.. ternyata kalian sama saja dan lucu-lucu! Mana yang benar dan mana yang salah ,… absurd..!!
Sementara di seberang panggung sana media massa bersorak membidikkan kamera, lalu menggelinjang masyuk dalam lenguhan uphoria yang ejakulasinya … oplah dan rating! Tariannya semakin beringas mengipas-kipas… Betapa mentereng dan jumawanya kekuatan media massa… Bahkan mampu membuat seakan forum peradilan telah pindah tempat, walaupun kenyataan yang ada kadang hanya tidak lebih dari hasutan agar perseteruan semakin gayeng…. Eksploitasi demoralitas yang sangat memuakkan. Rakyatpun akhirnya semakin mual-mual dengan drama yang memalukan itu… Rakyat bingung dan resah ….. Seperti itukah profil pagar-pagar tanaman negeri kami? Lalu dimana gelegar wibawa Sang Bathara Guru yang bisa membuat tikus-tikus itu tunggang langgang karena ciut nyali, dan para penjaga pagar jera mempermainkan tanamannya sendiri? Lalu mana pula para dewa-dewa tukang produksi fatwa-fatwa itu, apakah masih kurang kadar kebobrokan dan kemesuman ulah mereka, sehingga belum layak ditempeli fatwa haram?
Hiduplah tanahku( miris rasanya… )
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Read More..
14 October 2009
Internal Collides

Tatanan kehidupan yang menjadi pakaian kita sehari-hari perlahan mulai terbagi. Ada yang ingin tetap bertahan dengan pakaian Adab-Susila dan meneruskan norma yang selama ini dianut turun temurun. Sementara ada yang hingar-bingar dan jingkrak-jingkrak mengejar segala sesuatu yang menyenangkan dengan mengenakan pakaian Kebebasan. Asal menguntungkan dan menyenangkan , Go ahead aja….!!
Bicara tentang budaya memang seperti mengurai benang kusut. Kebudayaan, ketika didudukkan di pelataran global maka yang mengalir dan berputar di kepala kita adalah ragam budaya antara negara, bangsa suku atau bahkan benua. Yang jika dipertemukan maka akan ada banyak benturan-benturan satu sama lain.
Coba kita perkecil ruang bacanya, maka kita temukan bahwa dalam suatu komunitas budaya pun ada internal collides di antara mereka sendiri. Benturan-benturan paham, pendapat, pola hidup internal komunitas tersebut. Hidup memang berkembang sesuai dengan daya pikir dan kemampuan budi daya manusianya. Benturan antara tradisionalis dan modernis umpamanya, akan selalu mewarnai perilaku hidup suatu komunitas budaya.
Polemik rencana kedatangan Miyabi salah satu contohnya. Ada yang berpendapat sah-sah saja … Lha wong itu khan membantu mengangkat dan memajukan dunia perfilman nasional. Sementara yang lainnya berpendapat hal itu merupakan preseden buruk pada pendidikan moral-susila generasi muda. Karena mempersilahkan Miyabi eksis dibelantara perfilman nasional berarti sama saja menyemai benih-benih perilaku amoral dibenak generasi mendatang. Lantas mana yang benar? Jawabannya terpulang ke seberapa peduli kita akan nasib mental-moral generasi muda ke depan.
Kebebasan berpikir dan berpendapat adalah hak semua insan, dan itu wilayah yang susah untuk diatur karena bersifat immaterial. Namun kebebasan berpendapat itu akan menjadi semacam pelontar terjadinya benturan dan konflik. Nyatanya kebebasan berfikir mengejawantah menjadi budaya baru yang nyawanya bernama Hedonism, kemudian Pragmatism yang menjadi kendaraannya….. Asal dapat menyenangkan dan memberi keuntungan secara material maka hal itu dianggapnya sah-sah saja. Apakah dunia perfilman hanya bisa maju jika kita mampu Menculik Miyabi?
Apakah jika perfilman kita maju lantas menjamin bangsa ini tidak semakin keracunan? Sedangkan selama ini semua juga mafhum jika racun yang paling addictif dan efektif daya racunnya justru menyebar lewat wahana film… baik dari layar lebar maupun layar kaca! Pola pikir Hedonis sudah mulai mendominasi pola pikir generasi muda kita.. Segala hal yang menyenangkan dan secara materi menguntungkan menjadi hal yang dielu-elukannya.
Bangsa yang keracunan adalah bangsa yang bahkan tidak mampu lagi mengendalikan dan memberi batas-batas laju budaya-budaya yang meliar dan keluar dari batas norma-norma manusia. Jika keadaannya sudah outbreak semacam itu, seakan tidak ada lagi nurani yang memegang etika dan kesusilaan, maka tunggu saja masa-masa bangsa ini betul-betul keracunan dan tak mampu lagi Mengembalikan Jati Diri Bangsanya. Jati Diri Bangsa ini sudah seperti seonggok kain kumal yang tinggal nama, bahkan generasi muda kita sebenarnya tidak pernah tahu lagi apa sih bentuk dan figur dari Jati Diri Bangsa itu.
Read More..
24 May 2009
Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Sebuah judul tulisan kontest SEO yang diselenggarakan oleh beritajitu.com, yang sangat bernilai mulia. Pada awalnya saya sendiri kurang tertarik untuk mengikutinya, namun saya tergelitik untuk menulis setelah kejadian pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 kemarin. Karena menurut saya Judul Kontes "Mengembalikan Jati Diri Bangsa" ini sangat relevan untuk diulas dengan kejadian tragedi anarkhis tersebut. Bahkan sepertinya pihak penyelenggara sangat tepat waktu meluncurkan kontes ini (seakan) bersamaan dengan tragedi kemanusian yang memalukan itu.
Kalau untuk urusan SEO.. ampun dah...! Saya masih cupu dan tidak menargetkan apapun, jangankan untuk menang... untuk bertengger di halaman satu rasanya musykil hehehe...
Kata "mengembalikan" jika dipasangankan dengan "Jati Diri Bangsa" maka maknanya menyentuh pemahaman yang menari di daerah red-zone kekhawatiran bersama, bahwa kita sebagai sebuah bangsa tengah kehilangan "Jati Diri".
Pertanyaannya, "Jati Diri" yang seperti apakah yang telah hilang itu? Apakah kita pernah memilikkinya..? Kita sadarkan diri dulu sebentuk kesamaan pandang tentang sosok "Jati Diri" ini. Jati diri mungkin bermakna "nilai-nilai dasar kepribadian" atau mungkin core self values yang jika disandingkan dengan kehidupan berbangsa, maka bermakna nilai-nilai dasar pribadi sebuah bangsa. Kembali ke pertanyaan di atas, bagian mana jati diri kita yang telah raib dan perlu di kembalikan itu? Jawabnya mengharuskan kita mengkorek-korek lagi tumpukan sejarah. Karena sebenarnya para pendiri bangsa ini telah meletakkan fondasi berupa Pancasila sebagai core of nation dan acuan dasar berbangsa dan bernegara. Benarkah Pancasila telah hilang? Sosok Pancasila tidak pernah hilang, namun jiwa dan nilai yang terkandung memang mulai pudar dan menguap.. Saat ini tanpa kesan sama sekali dan sedikit demi sedikit terpuruk di "gudang penyimpanan" kaidah cara berfikir anak bangsa. Tertimbun oleh barang import "ideologi-ideologi pragmatis" yang datangnya dari "negeri-negeri gemerlap" atau bahkan yang datang dari "negeri-negeri culun". Pancasila dan segala nilai universalnya nyatanya seperti tuan rumah yang tersingkir dan dipijak-ditendang oleh perseteruan ideologi antara negeri gemerlap yang bebas tak mengenal batas dengan jas munafiknya yang bernama Liberalis-Humanis dengan negeri culun yang sok suci dengan jubah munafiknya yang bernama anti modernitas.
Pancasilakah jati diri bangsa kita..?
Jika kita jawab bukan, mari kita tengok pada jaman manakah jati diri bangsa ini pernah eksis merasuk dan menaungi bangsa ini?
Silahkan pilih, pada jaman pra kolonialis, kolonialis atau kapan? Bahkan pada rentang warsa kerajaan-kerajaan pra kolonialis bertahta, pijakan cara berfikir bangsa kita justru terpuruk di ujung terendah tangga-tangga feodalisme dan menjadi keset berlaganya intrik kaum ningrat hedonis dari dalam tembok istana. Tembok istana nyatanya mampu memaksa tumbuh suburnya pilah-pilah kasta. Lalu masuk rentang warsa kolonialis yang semakin membuat buram potret “Jati Diri Bangsa" ini dan menciut-kecut di ujung pedang dan meriam kaum imperialis barat. Di penghujung kekuasaan imperialis barat, ada "saudara dari timur" yang berlagak sok “nyedulur” dan memompakan semangat nasionalis yang ternyata malah menikam. Namun pada masa-masa yang sama para pionir dan cerdik pandai bangsa ini mampu menghidupkan lima “Jati Diri Bangsa” yang menjadi ruh berdirinya sebuah Negara dan rasa kebangsaan yang baru. Sejalan dengan waktu ternyata kita sendiri saat ini mulai risih untuk membaca, apalagi menghapal... boro-boro juga mengamalkan dan menjiwai nilai-nilai luhurnya ke dalam hidup kita. Atau mungkin kita masih akan mengingkari dan menolak keberadaannya hanya karena melihat “sepenggal jati diri” bangsa lain yang belum tentu mampu menghadirkan ruh persatuan atas kesatuan bangsa ini? Jika memang jawabannya “iya” maka wajar jika kita merasa “kehilangan”. Wajar juga jati diri bangsa ini yang katanya penuh rasa “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, penuh “Musyawarah untuk mufakat” telah lesap berganti dengan jatidiri yang beringas dan lebih senang memaksakan kehendak dan seenaknya menginjak-injak rasa kemanusiaan demi sepenggal ideologi yang dianggapnya benar. Maka sikap masa bodoh yang tegaan dan merasa gagah jika mampu membom dinding rumah sendiri!! Atau bahkan sebaliknya tumbuh suburnya pola-pola pikir hedonis baru yang menggiring tingkah laku generasi muda menjadi liar dan jauh dari norma-norma sosial dan ketuhanan…. Yang lebih merasa wah dan mentereng jika disebut modern dan bertingkah seperti mereka. Lebih parah lagi fenomena rusaknya mental kaum birokrat atau pribadi-pribadi pemuka bangsa yang semakin rakus harta dan rakus kekuasaan seakan-akan jatidiri “Ketuhanan Yang maha Esa” dan “Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat” hanya pajangan belaka!
Polah tingkah bangsa ini adalah sebuah drama hidup yang mengalir di dalam kungkungan lorong budaya. Ada yang menukik menggerus simpati dan melonjak mencakar emosi!
Tatanan seperti apakah yang tengah menggeliat mencari jalan untuk lahir... masing-masing kita adalah bagian dari perubahan itu. Jika kemudian calon-calon pemegang tongkat estafet bangsa ini lebih senang berkaca pada kemilau gaya hidup bebas orang lain atau bahkan terjebak terhadap gaya hidup yang homogen dan naif yang tidak sesuai dengan peri kehidupan bangsa yang beragam ini.
Entahlah bangsa ini seperti bangsa yang bingung.... ada yang teriak ke barat .. semua ribut berebut ke barat, ada yang teriak ke timur... semua sibuk berebut ke timur. Ada yang teriak anti Neo Liberalisme ... semua sibuk anti paham itu! Ada yang teriak Anti Sosialis semua sibuk anti paham itu. Bangsa ini seperti kumpulan manusia yang sukanya menghujat... suka mencari kesalahan kesana-sini. Sejarah sudah berbicara banyak, siapapun pemimpinnya pasti jatuhnya dalam kubangan aib dan mandi hujatan. Nilai luhur yang pernah digaungkan kampium pendiri bangsa ini “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya” seperti tinggal kenangan. Semua sibuk adu pintar menghujat sana-sini... bertingkah seolah mereka paling pintar mengatur negara, seolah mereka paling kuat imannya menghadapi godaan Harta-Tahta-Wanita. Masih ingat ketika Pancasila digalakkan untuk ditanamkan ke moral kehidupan bangsa dulu, mereka yang merasa intelek beramai-ramai menolaknya... nah sekarang setelah generasi muda mulai tidak kenal dan bahkan kerepotan untuk menyebutkan urut-urutan tiap silanya yang cuma lima gelintir itu... kemudian semua sibuk merasa kehilangan jati diri.
Yah kita sedang beramai-ramai merasa kehilangan... Lalu kita ini sebenarnya sedang kehilangan “Jati Diri” yang mana?
Mari kita mawas diri.. realitanya kita tetap butuh acuan dasar berupa Visi dan Misi dalam berbangsa dan bernegara. Mari kita menjadi bangsa yang besar dengan menghargai kembali warisan para pendiri bangsa agar “Jati Diri Bangsa” ini bukan hanya berupa uthopia tanpa bentuk. Jika kelima poin itu dirasa tidak tepat mewakili perwujudan “Jati Diri Bangsa" ini ... maka komitmen bangsa yang mana yang dapat kita sepakati menjadi Pemersatu, dan Pegangan bersama dalam menjalankan segala peri kehidupan bangsa yang tidak mengekor pola hidup liar bangsa lain? Wallahua’lam....... Read More..
Sebuah judul tulisan kontest SEO yang diselenggarakan oleh beritajitu.com, yang sangat bernilai mulia. Pada awalnya saya sendiri kurang tertarik untuk mengikutinya, namun saya tergelitik untuk menulis setelah kejadian pemboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 kemarin. Karena menurut saya Judul Kontes "Mengembalikan Jati Diri Bangsa" ini sangat relevan untuk diulas dengan kejadian tragedi anarkhis tersebut. Bahkan sepertinya pihak penyelenggara sangat tepat waktu meluncurkan kontes ini (seakan) bersamaan dengan tragedi kemanusian yang memalukan itu.
Kalau untuk urusan SEO.. ampun dah...! Saya masih cupu dan tidak menargetkan apapun, jangankan untuk menang... untuk bertengger di halaman satu rasanya musykil hehehe...
Kata "mengembalikan" jika dipasangankan dengan "Jati Diri Bangsa" maka maknanya menyentuh pemahaman yang menari di daerah red-zone kekhawatiran bersama, bahwa kita sebagai sebuah bangsa tengah kehilangan "Jati Diri".
Pertanyaannya, "Jati Diri" yang seperti apakah yang telah hilang itu? Apakah kita pernah memilikkinya..? Kita sadarkan diri dulu sebentuk kesamaan pandang tentang sosok "Jati Diri" ini. Jati diri mungkin bermakna "nilai-nilai dasar kepribadian" atau mungkin core self values yang jika disandingkan dengan kehidupan berbangsa, maka bermakna nilai-nilai dasar pribadi sebuah bangsa. Kembali ke pertanyaan di atas, bagian mana jati diri kita yang telah raib dan perlu di kembalikan itu? Jawabnya mengharuskan kita mengkorek-korek lagi tumpukan sejarah. Karena sebenarnya para pendiri bangsa ini telah meletakkan fondasi berupa Pancasila sebagai core of nation dan acuan dasar berbangsa dan bernegara. Benarkah Pancasila telah hilang? Sosok Pancasila tidak pernah hilang, namun jiwa dan nilai yang terkandung memang mulai pudar dan menguap.. Saat ini tanpa kesan sama sekali dan sedikit demi sedikit terpuruk di "gudang penyimpanan" kaidah cara berfikir anak bangsa. Tertimbun oleh barang import "ideologi-ideologi pragmatis" yang datangnya dari "negeri-negeri gemerlap" atau bahkan yang datang dari "negeri-negeri culun". Pancasila dan segala nilai universalnya nyatanya seperti tuan rumah yang tersingkir dan dipijak-ditendang oleh perseteruan ideologi antara negeri gemerlap yang bebas tak mengenal batas dengan jas munafiknya yang bernama Liberalis-Humanis dengan negeri culun yang sok suci dengan jubah munafiknya yang bernama anti modernitas.
Pancasilakah jati diri bangsa kita..?
Jika kita jawab bukan, mari kita tengok pada jaman manakah jati diri bangsa ini pernah eksis merasuk dan menaungi bangsa ini?
Silahkan pilih, pada jaman pra kolonialis, kolonialis atau kapan? Bahkan pada rentang warsa kerajaan-kerajaan pra kolonialis bertahta, pijakan cara berfikir bangsa kita justru terpuruk di ujung terendah tangga-tangga feodalisme dan menjadi keset berlaganya intrik kaum ningrat hedonis dari dalam tembok istana. Tembok istana nyatanya mampu memaksa tumbuh suburnya pilah-pilah kasta. Lalu masuk rentang warsa kolonialis yang semakin membuat buram potret “Jati Diri Bangsa" ini dan menciut-kecut di ujung pedang dan meriam kaum imperialis barat. Di penghujung kekuasaan imperialis barat, ada "saudara dari timur" yang berlagak sok “nyedulur” dan memompakan semangat nasionalis yang ternyata malah menikam. Namun pada masa-masa yang sama para pionir dan cerdik pandai bangsa ini mampu menghidupkan lima “Jati Diri Bangsa” yang menjadi ruh berdirinya sebuah Negara dan rasa kebangsaan yang baru. Sejalan dengan waktu ternyata kita sendiri saat ini mulai risih untuk membaca, apalagi menghapal... boro-boro juga mengamalkan dan menjiwai nilai-nilai luhurnya ke dalam hidup kita. Atau mungkin kita masih akan mengingkari dan menolak keberadaannya hanya karena melihat “sepenggal jati diri” bangsa lain yang belum tentu mampu menghadirkan ruh persatuan atas kesatuan bangsa ini? Jika memang jawabannya “iya” maka wajar jika kita merasa “kehilangan”. Wajar juga jati diri bangsa ini yang katanya penuh rasa “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, penuh “Musyawarah untuk mufakat” telah lesap berganti dengan jatidiri yang beringas dan lebih senang memaksakan kehendak dan seenaknya menginjak-injak rasa kemanusiaan demi sepenggal ideologi yang dianggapnya benar. Maka sikap masa bodoh yang tegaan dan merasa gagah jika mampu membom dinding rumah sendiri!! Atau bahkan sebaliknya tumbuh suburnya pola-pola pikir hedonis baru yang menggiring tingkah laku generasi muda menjadi liar dan jauh dari norma-norma sosial dan ketuhanan…. Yang lebih merasa wah dan mentereng jika disebut modern dan bertingkah seperti mereka. Lebih parah lagi fenomena rusaknya mental kaum birokrat atau pribadi-pribadi pemuka bangsa yang semakin rakus harta dan rakus kekuasaan seakan-akan jatidiri “Ketuhanan Yang maha Esa” dan “Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat” hanya pajangan belaka!
Polah tingkah bangsa ini adalah sebuah drama hidup yang mengalir di dalam kungkungan lorong budaya. Ada yang menukik menggerus simpati dan melonjak mencakar emosi!
Tatanan seperti apakah yang tengah menggeliat mencari jalan untuk lahir... masing-masing kita adalah bagian dari perubahan itu. Jika kemudian calon-calon pemegang tongkat estafet bangsa ini lebih senang berkaca pada kemilau gaya hidup bebas orang lain atau bahkan terjebak terhadap gaya hidup yang homogen dan naif yang tidak sesuai dengan peri kehidupan bangsa yang beragam ini.
Entahlah bangsa ini seperti bangsa yang bingung.... ada yang teriak ke barat .. semua ribut berebut ke barat, ada yang teriak ke timur... semua sibuk berebut ke timur. Ada yang teriak anti Neo Liberalisme ... semua sibuk anti paham itu! Ada yang teriak Anti Sosialis semua sibuk anti paham itu. Bangsa ini seperti kumpulan manusia yang sukanya menghujat... suka mencari kesalahan kesana-sini. Sejarah sudah berbicara banyak, siapapun pemimpinnya pasti jatuhnya dalam kubangan aib dan mandi hujatan. Nilai luhur yang pernah digaungkan kampium pendiri bangsa ini “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya” seperti tinggal kenangan. Semua sibuk adu pintar menghujat sana-sini... bertingkah seolah mereka paling pintar mengatur negara, seolah mereka paling kuat imannya menghadapi godaan Harta-Tahta-Wanita. Masih ingat ketika Pancasila digalakkan untuk ditanamkan ke moral kehidupan bangsa dulu, mereka yang merasa intelek beramai-ramai menolaknya... nah sekarang setelah generasi muda mulai tidak kenal dan bahkan kerepotan untuk menyebutkan urut-urutan tiap silanya yang cuma lima gelintir itu... kemudian semua sibuk merasa kehilangan jati diri.
Yah kita sedang beramai-ramai merasa kehilangan... Lalu kita ini sebenarnya sedang kehilangan “Jati Diri” yang mana?
Mari kita mawas diri.. realitanya kita tetap butuh acuan dasar berupa Visi dan Misi dalam berbangsa dan bernegara. Mari kita menjadi bangsa yang besar dengan menghargai kembali warisan para pendiri bangsa agar “Jati Diri Bangsa” ini bukan hanya berupa uthopia tanpa bentuk. Jika kelima poin itu dirasa tidak tepat mewakili perwujudan “Jati Diri Bangsa" ini ... maka komitmen bangsa yang mana yang dapat kita sepakati menjadi Pemersatu, dan Pegangan bersama dalam menjalankan segala peri kehidupan bangsa yang tidak mengekor pola hidup liar bangsa lain? Wallahua’lam....... Read More..