Sincerity, Accolade, Relationship, Unassuming
Kenyataannya setiap manusia membutuhkan sebuah interaksi. Sedangkan sebuah interaksi akan nyambung, manis dan langgeng jika dilandasi oleh KETULUSAN (Sincerity), PENGHARGAAN (Accolade), PERSAHABATAN (Relationship) dan KESEDERHANAAN (Unassuming).
Boleh percaya boleh tidak, sekian waktu berkecimpung di dunia maya saya menemukan kemapanan interaksi yang mampu menghasut rasa ini, agar tumbuh tersambung menjadi jalinan persahabatan yang sederhana ketika saya terjerumus ke dalam sebuah Social Networking yang bernama PLURK. Sangat sederhana dan interaktif, bagaikan setali tiga uang, tool sederhana yang hebat ini mampu mengikat kami para blogger ke dalam jalinan sederhana yang keren dahsyat, di belakang front page kami masing-masing. Benak saya mengandaikan, kami seakan sedang bercengkerama, bersenda gurau di halaman belakang rumah kami atau etalase kami masing-masing (blog). Kenapa kami pilih PLURK? Jawabnya ada di sini
Read More..
24 June 2010
22 June 2010
Indonesia Ikut Piala Dunia
Indonesia pernah menjadi team negara Asia pertama yang ikut World Cup. Tepatnya pada tahun 1938 yang diadakan di Perancis.
Tergelitik banget perasaan untuk mencari lebih tahu mengenai hal tersebut, tentunya hal yang wajar di tengah euphoria penyelenggaraan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ini. Karena sejujurnya saja, gegap-gempitanya belum bisa merasuk sampai ke wilayah rasa bangga sebagai sebuah bangsa. Kita masih berteriak-teriak menyoraki Negara-negara tetangga kita yang bertanding saling beradu prestasi dan berebut supremasi. Seandainya saja yang kita tonton dan kita elu-elukan kemenangannya di World Cup tersebut adalah tim PSSI. Tim kebanggaan bangsa Indonesia.
(doh) Capek rasanya mengharap mereka pulang membawa kemenangan pada event-event olahraga Internasional.
Read More..
Tergelitik banget perasaan untuk mencari lebih tahu mengenai hal tersebut, tentunya hal yang wajar di tengah euphoria penyelenggaraan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ini. Karena sejujurnya saja, gegap-gempitanya belum bisa merasuk sampai ke wilayah rasa bangga sebagai sebuah bangsa. Kita masih berteriak-teriak menyoraki Negara-negara tetangga kita yang bertanding saling beradu prestasi dan berebut supremasi. Seandainya saja yang kita tonton dan kita elu-elukan kemenangannya di World Cup tersebut adalah tim PSSI. Tim kebanggaan bangsa Indonesia.
(doh) Capek rasanya mengharap mereka pulang membawa kemenangan pada event-event olahraga Internasional.
Read More..
14 June 2010
Karib
Aku mungkin karibmu paling dungu, yang hidup di pelupukmu dan mengais harapan di kehendakmu....
Selalu mengerang dalam keluh-kesah insan papa yang sedang 'mencari' dengan segala keinginan 'konyol' untuk menandai jejak bangau yang sedang terbang. Inginnya ku terima saja gundah yang mengiringi gumpalan ego yang tengah runtuh ini, ku biar-rasakan saja lunglai raga ini, jika itu bisa membuatmu semakin terasa karib walau temaram. Cukup semua itu menjadi pengantar segala bentuk vision yang berputar-putar liar, tanpa arah - tanpa kendali, mencoba memaknai semau-maunya kediaman eksistensimu.
Aku mungkin karibmu paling dungu, namun aku tidak pernah ingin menistakan diriku sendiri, dan aku tidak pernah merasa seperti pungguk merindukan bulan. Di sini ada aku, di sini ada engkau, dan selalu kau temani aku menghabiskan sisa waktu 'perjalanan melingkar' ini dalam diam, namun heningmu masih membuatku sering terlena dan merasa sukar untuk merasakan engkau masih di sini.
Teringat pongahku, berapa kali aku selalu salah memaknai kehendakmu, layaknya aku ada hak tawar menawar denganmu.
Engkau pun tahu betapa bebalnya aku, fluktuasi yakinku sebenarnya mewakili segala resah dan harapku yang seakan terlantar di atas lembaran-lembaran nasibku.
Aah.. aku mungkin karibmu yang paling dungu, harusnya malu ketika terlontar kata "harapku","nasibku", sedangkan engkau tengah tersenyum dalam diam, melihatku "belajar" mengarungi ruangan kosong tanpa bingkai nasib maupun sekat takdir.
Sebelum senja turun berganti malam, biar ku genapi kedunguanku dan ku paksakan sisa-sisa permintaan kepadamu....
Jangan pisahkan gemuruh suara ini dari detakan jantung, letakkan saja paket-paket ketentuan itu di serambi tengah logikaku yang tengah jatuh-bangun ku coba untuk melipatnya - agar ringkas. Kemudian ijinkan aku mengarungi altar "nowhere" ini tetap hanya denganmu tanpa jarak dan sesuatu yang membatas sentuhanmu.
Jangan paksakan pula desakan pemahaman ini keluar dari rentetan blue print kejadian diri. Karena setelah cermin yang kau pinjamkan itu kini kusam belepotan noda, hanya template-template itulah yang kupahami sebagai shortcut untuk mengingat bahwa engkau selalu ada di dekatku, dan jika suatu saat aku tertindas oleh akunya diri, tolong buka mata kecil kesadaran sejatiku untuk memahami cahaya di atas cahayamu.
Dan esok hari ketika matahari terbit, mestinya aku ada dalam ayunan ketentuanmu, aku ada di pelukan kehendakmu, dan aku ada di genangan welas asihmu. Read More..
Selalu mengerang dalam keluh-kesah insan papa yang sedang 'mencari' dengan segala keinginan 'konyol' untuk menandai jejak bangau yang sedang terbang. Inginnya ku terima saja gundah yang mengiringi gumpalan ego yang tengah runtuh ini, ku biar-rasakan saja lunglai raga ini, jika itu bisa membuatmu semakin terasa karib walau temaram. Cukup semua itu menjadi pengantar segala bentuk vision yang berputar-putar liar, tanpa arah - tanpa kendali, mencoba memaknai semau-maunya kediaman eksistensimu.
Aku mungkin karibmu paling dungu, namun aku tidak pernah ingin menistakan diriku sendiri, dan aku tidak pernah merasa seperti pungguk merindukan bulan. Di sini ada aku, di sini ada engkau, dan selalu kau temani aku menghabiskan sisa waktu 'perjalanan melingkar' ini dalam diam, namun heningmu masih membuatku sering terlena dan merasa sukar untuk merasakan engkau masih di sini.
Teringat pongahku, berapa kali aku selalu salah memaknai kehendakmu, layaknya aku ada hak tawar menawar denganmu.
Engkau pun tahu betapa bebalnya aku, fluktuasi yakinku sebenarnya mewakili segala resah dan harapku yang seakan terlantar di atas lembaran-lembaran nasibku.
Aah.. aku mungkin karibmu yang paling dungu, harusnya malu ketika terlontar kata "harapku","nasibku", sedangkan engkau tengah tersenyum dalam diam, melihatku "belajar" mengarungi ruangan kosong tanpa bingkai nasib maupun sekat takdir.
Sebelum senja turun berganti malam, biar ku genapi kedunguanku dan ku paksakan sisa-sisa permintaan kepadamu....
Jangan pisahkan gemuruh suara ini dari detakan jantung, letakkan saja paket-paket ketentuan itu di serambi tengah logikaku yang tengah jatuh-bangun ku coba untuk melipatnya - agar ringkas. Kemudian ijinkan aku mengarungi altar "nowhere" ini tetap hanya denganmu tanpa jarak dan sesuatu yang membatas sentuhanmu.
Jangan paksakan pula desakan pemahaman ini keluar dari rentetan blue print kejadian diri. Karena setelah cermin yang kau pinjamkan itu kini kusam belepotan noda, hanya template-template itulah yang kupahami sebagai shortcut untuk mengingat bahwa engkau selalu ada di dekatku, dan jika suatu saat aku tertindas oleh akunya diri, tolong buka mata kecil kesadaran sejatiku untuk memahami cahaya di atas cahayamu.
Dan esok hari ketika matahari terbit, mestinya aku ada dalam ayunan ketentuanmu, aku ada di pelukan kehendakmu, dan aku ada di genangan welas asihmu. Read More..
11 June 2010
Moral Decadence
Atas nama kebebasan maka silahkan kentut sesukanya atau simpan serapat-rapatnya, toh angin tetap berhak untuk menyebarkan bau busuk itu suatu saat.
Mengapa harus menyalahkan angin, yang menyampaikan kentut ke mana-mana itu?
Menyikapi peredaran video mesum artis papan atas negeri Begajul ini (meminjam istilah Ki Demang Jogloabang)yang dampaknya begitu bombastis, fantastis dan spektakuler menerobos semua wilayah media yang satu sama lainnya dengan mudah melakukan konversi.
Kemudahan konversi antar media ini semakin menambah laju penyebaran video mesum berada jauh di luar batas kendali lembaga-lembaga yang bertanggung jawab mengontrol mutu dan moralitas informasi yang beredar. Menerobos inter media itu berarti juga menerobos ke seluruh kalangan, strata, dan lingkungan. Seakan mengukuhkan seberapa begajulnya derajat kebegajulan penghuni negeri begajul, karena semakin transparannya mata publik.
Read More..
Mengapa harus menyalahkan angin, yang menyampaikan kentut ke mana-mana itu?
Menyikapi peredaran video mesum artis papan atas negeri Begajul ini (meminjam istilah Ki Demang Jogloabang)yang dampaknya begitu bombastis, fantastis dan spektakuler menerobos semua wilayah media yang satu sama lainnya dengan mudah melakukan konversi.
Kemudahan konversi antar media ini semakin menambah laju penyebaran video mesum berada jauh di luar batas kendali lembaga-lembaga yang bertanggung jawab mengontrol mutu dan moralitas informasi yang beredar. Menerobos inter media itu berarti juga menerobos ke seluruh kalangan, strata, dan lingkungan. Seakan mengukuhkan seberapa begajulnya derajat kebegajulan penghuni negeri begajul, karena semakin transparannya mata publik.
Read More..