Showing posts with label Spirituil. Show all posts
Showing posts with label Spirituil. Show all posts

11 February 2013

Mati Rasa

Rentang rasa telah robek di sana-sini ditikam angin perobahan, disayat-sayat nalar pragmatis si anak jaman.
Rentang rasa tersisih ke pinggir jalan, didepak nafsu-nafsu serakah yang pecicilan dan semakin telanjang tanpa malu-malu.
Rentang rasa terkikis menipis digerus roda perubahan etika hidup dalam kebersamaan.

Sedetik saja kebijaksanaan terkulai di emperan surau, maka seabad pola hidup hedonis bakal memperkosa nurani bertubi-tubi. Nurani menjadi kurus dan tertunduk diam di punggung kemunafikan yang tengah narsis menebar pesona, dan dengan terampilnya memainkan peran ganda sebagai tokoh “Angel and Devil” dalam satu tarikan nafas. Sementara mereka yang masih menggengam kearifan diri - yang kusam bungkusnya itu, duduk di atas tanah pusaka sambil menyaksikan jaman yang semakin tersaruk memikul beban "badai moral" dipundaknya.
Sayup-sayup nyanyian puji masih terdengar walau sumbang, timbul tenggelam suaranya ditelan dentuman-dentuman syahwat menyentak. Diantara bau-bau mistis yang memabokan, manusia bergerak liar menari-nari menebar api dan mengumbar nafsu serakahnya di jalan-jalan, di lantai mengkilap – di bawah sorotan lampu memusingkan, di balik simbol partai, di balik jabatan, di balik jubah alimnya, aah...!! Ketika itulah Tuhan hanya ada di tempat pemujaan dan sinarnya tersudut menjadi simbol yang redup di balik gumpalan syahwat duniawi, maka saksikanlah betapa manusia semakin berani dan kreatif menjadikan agama sebagai kedok - topeng pembenaran adanya kolaborasi antara agama dan kemaksiatan, pembenaran yang dipaksakan untuk mengemulsikan yang haq dan yang bathil menjadi ramuan isme baru, semacam proses pencerabutan dimensi ilahiah mencoba diekstrak menjadi dimensi logika.

Keinginan untuk paling benar sendiri,
mau menang sendiri,
mau untung sendiri,
mau berkuasa sendiri,
mau kaya sendiri,
mau mulia sendiri,
mau nyaman sendiri,
mau enak sendiri,
mau aman sendiri,
mau senang sendiri,
mau sejahterah sendiri,
merasa paling hebat sendiri..... dan semua itu datang dari gemuruhnya setitik kecil noktah bernama KESERAKAHAN yang ketika bertemu dengan aji mumpung dan desakan hidup senang, maka bermanuver dan mengembang selayaknya bola salju yang melaju tak terkendali, menelan dan meluluh-lantakkan semua tatanan dan kesempatan yang dilaluinya.

Aku dan kamu semoga saja bukan menjadi saksi terakhir dari dahsyatnya angkara keinginan manusia.
Aku dan kamu hanya bisa duduk bergumam dan bermimpi indah di luar medan laga, jauh dari hiruk-pikuknya gemerlap dunia.

Atau engkau pun sudah mulai berani mencoba peruntungan dan turun gelanggang kawan?
Read More..

05 February 2013

Siapa di mana?

Permainan makna sering memabokkan, seperti meminum air laut!
Seluruh akal terbelenggu tali halus bernama naif, lalu otak otomatis memberi ruang khusus yang dihias dengan aroma "katanya" yang membutakan nurani.

Batasan-batasan kelabu sering membelenggu logika, tanpa nalar berani mengambil kesimpulan. Kemudian menjadi permainan faham adalah warna sehari-hari,  sampai kapan bisa bertahan?
Pejamkan mata jika lelah, letakan beban jika penat, tak usah memaksa keluar dari kubangan bodoh jika belum siap, karena hanya dengan jalan "mengerti"  saja belum cukup untuk membuat status "expert".

Read More..

13 May 2011

G B U

Tak perlu merasa terjauhkan oleh harap, tak perlu merasa terasingkan oleh suasana sekitar, ketika jalanan menemui tikungan sempit dan gelap, tetap jalani saja dengan tenang sampai ada cahaya yang menyinar dan mendesak gelap pepat ke tepian napas. Hati adalah cermin yang secara naluriah akan memancarkan semua tangkapan bentuk visual eksternal kenyataan, sayangnya kualitas pantulannya sangat dipengaruhi oleh distorsi perasaan, sehingga kadang pantulannya terdifraksi dan membentuk opini pribadi yang sangat subyektif.

Read More..

01 April 2011

RUNAWAY

Aku tidak sedang menghujat malam ketika aku termangu lama di tengah-tengah kerumunan mimpi, pun tidak juga sedang mencari-cari kesalahan sang rembulan yang mengintip dan mencuri-curi tahu warna perasaanku dari balik gerombolan awan masalah hidupku.

Aku bahkan tengah berusaha hening dari segala macam sebab akibat dan tengah kepayahan melepaskan diri sejenak dari buaian harapan dan ancaman kecewa yang malang melintang memenuhi tiap jengkal permukaan rasa yang kukecap.

Read More..

10 December 2010

The Choice

Terbebas dari belenggu penjajah kecil bernama "harap yang tak jelas" membuatku serasa bisa terbang bebas menembus batas cakrawala manapun. Nafas-nafas segar serasa menari di dedaunan hijau dan bunga-bunga penuh embun keyakinan. Ternyata, bermain-main dengan istana pasir di tepian ombak yang menggulung tiada pernah membuat nyaman perasaan. Andai saja matahari tidak terlalu lama tertutup mendung, pasti aku kan menyadarinya sedini mungkin untuk tidak menyia-nyiakan persepsi dan jatah waktu hidupku. Ketololan logikaku memang belum sepenuhnya menjadi sebuah kubangan lumpur, dan bersyukur saat ku temukan kini telah mengeras dan pecah-pecah sebelum mengotori seluruh baju dan keyakinanku. Ringan sekali, serasa menari di angin, langkah ini bergantian meninggalkan semua bayangan ilusi bersaput hidangan semu itu.

Kembali menengok ke belakang, bagiku tak lebih seperti menengok bangkai busuk yang terkemas kain sutera, dan aku sangat tidak peduli jika itu semakin membusuk sekali pun. Hahaha... dan aku kini menganggap semua itu seperti tidak pernah singgah di beranda rumahku! Bukankah setiap perjalanan selalu membutuhkan konsekuensi? Ada yang terus berjalan menggulung nafas kita dan setiap saat melambaikan tangan kawan, ada yang mesti dipertanggung-jawabkan selain mengejar buih-buih ombak yang tak pasti dan kosong belaka. Dan kuputuskan aku harus menjadi hakim bagi diriku sendiri, ketika dalam diriku ada dua kekuatan - sisi baik dan buruk mulai berebut kuasa. Yang haq tidak pernah bisa bercampur dengan yang bathil.Ternyata keindahan hakiki selamanya tidak pernah bersemayam di tumpukan desah-desah khianat.

Kenapa terus meratapi nasib dan terus berusaha lari dari kenyataan tanpa pernah berusaha untuk merubahnya persepsi diri?  Jika pagi hari - di awal-awal perjalanan sudah dilanda kepenatan jiwa dan menyerah kepada dorongan hasrat tanpa logika, lantas makna apa yang kelak akan dikenang menjadi sejarah hidup? Jadilah contoh seperti bunga-bunga yang indah dan wanginya luruh hanya untuk berkorban demi buah yang kelak meneruskan hidup speciesnya. Itulah hakekat perjuangan hidup! Sia-sia saja kau berteriak memohon belas kasihan, jika di belakang tingkahmu malah membakar benih-benih penerimaan yang selalu tumbuh itu.

Ah sudahlah, memang bukan hal yang mudah untuk melepaskan diri dari belitan kain kusam busuk yang seakan berhias intan itu. Dalam diri kita toh sudah terinstall pengalaman, naluri dan kebijaksanaan, di mana gabungan ketiganya itulah yang bernama ilmu hidup, selanjutnya denga ilmu itulah kita menentukan pilihan hidup. Ya pilihan hidup itu ada di tangan kita masing-masing, dan jika sudah memilih maka peliharalah seluruh tanaman di halamannya sampai ajal merenggut, karena ada kehormatan diri di balik pengorbanan itu. 

Selamat menikmat sepuas-puasnya jika ternyata kau masih merasa aman hidup diombang-ambing oleh si busuk bertampang manis itu, nikmati saja setiap hempasannya.... sesaat hidup di awang-awang dan terhempas ke batuan keras beberapa saat yang lain. Andai saja ada kesadaran bahwa kita tidak pernah bisa sempurna berpijak di dua lantai yang berbeda dan berseberangan itu kawan. 

What you give is you get! Jika kau tanam keladi maka jangan berharap kau panen padi, karena apa yang kau tanam adalah gambaran nyata apa yang akan kau panen. Read More..

13 November 2010

Eternal Mate

Alkisah dalam suatu kurun waktu hiduplah dua orang sahabat yang aneh perilakunya. Mereka hidup berdampingan dan saling berinteraksi namun hubungan antara keduanya sangat unik, sehingga saking uniknya sering membuat orang tersenyum, geli, jengkel, gemas dan juga terkagum-kagum melihatnya.

Membuat orang tersenyum karena kedua sahabat itu begitu mesra satu sama lain, namun berlagak gak mengenal satu sama lain. Membuat orang geli karena ulah salah satunya sering membuat sahabatnya jadi cengeng dan kekanak-kanakan bahkan membuatnya berubah jadi bego dibuatnya. Membuat jengkel orang lain karena ulah mereka sering berakibat fatal terhadap diri sahabatnya dan mencelakakan orang lain. Dan membuat orang terkagum-kagum ketika akibat dari ulah sahabatnya itu, teman satunya lagi bisa menjadi pribadi yang terpuji dan bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Read More..

16 October 2010

Neglectful

Tak terhitung rasanya, mengutukki kebodohan sendiri.

Ah kenapa harus mendebat dan menghujat terus? Bukankah lebih baik berdiri dan laksanakan dharma diri?
Toh kesadaran diri tidak identik dengan kepandaian mengolah kata dan merangkai dalil?
Tak perlu banyak pertanyaan! Banyak jalan untuk mengenal diri... mengalir sajalah.

Tak usah bertanya mengapa dilahirkan tanpa sayap, karena perjalananmu bukan di atas sana.

Dharmamu ada di sini, di jejak-jejak kemanusiaan mu, dan tak lebih jauh dari jarak pandangmu saja, bahkan kadang hanya sejengkal dari pusat rasamu. Mengapa harus mengejarnya sampai kaki cakrawala? Bukankah yang ingin kau tuju ada di hembusan nafas? Ada di denyutan darah? Mengapa harus mempertentangkan kebenaran langit sementara kaki-kakimu masih menapak di tanah hitam?

Langkah-langkah ini kecil dan teramat sederhana, tak terhitung berapa lama terkatung-katung di gelombang keluh-kesah, tapi memang kontrak hidup belum tunai... maka tunaikanlah hingga sempurna rukunnya. Tak usah berharap dan menunggu genangan kebijaksanaan itu menyembur dari ubun-ubun sang jaman, kemudian berkenan menjelaskan segala macam teori tentang asal muasal dan memaparkan segala macam dalil tentang Kebenaran.

Kadang dalam hidup lebih baik memakai kaca mata kuda agar fokus dalam karya. Tak semua reklame dan iklan di sepanjang jalan itu harus dibeli dan kita pun tak pernah bisa berdiri di dua tempat yang berbeda. Ada hal-hal yang harus kita relakan untuk tidak kita miliki.

Jangan pernah mengotori dharma bhakti  dengan menghujat kehendak langit, ingat langkah-langkah ini kecil dan teramat sederhana di hadapan majelis alam semesta. Jangan pula merasa paling berhak atas surga sedangkan kita masih setiap saat berpakaian lalai. Ya... nafas ini selalu terbungkus lalai di setiap hirupan dan hembusannya.


** Tulisan ini sekedar guneman yang ngoyo woro (asal tulis) dan tidak penting sama sekali, asal update postingan saja hehehe....
Read More..

27 August 2010

Hidden Intentions

Terlantar di persimpangan perspektif harusnya tidak serta merta mengungkung-surutkan binalnya otakmu dalam berinovasi. Jika kau merasa letih di ujung-ujung pengharapanmu, maka rebahlah sejenak dalam diam tafakur. Biarkan saja seluruh alam bawah sadarmu sejenak bekerja menggantikan dinamika lahiriahmu yang tengah terkulai tenang dibentangan permadani Malam Seribu Bulan.

Tak usah tergesa-gesa menyebut asma-Nya, sebutlah satu-satu dalam gelegar gumam, rasakan saja motivasi kuasa itu merasuk sampai ke dalam sel-sel darahmu yang berdenyut menghitung umurmu. Tenang dan mengalirlah, bukankah Dia tengah membuka diri dan mengalokasikan bulan ini khusus untukmu dengan-Nya. Tak guna kau berpacu mengejar awan dengan teriakan bertubi-tubi seperti sampah kemasan yang berhamburan, bak polusi yang egois memabukkan. Sangat membutakan.

Masih dan selalu ada waktu bagimu untuk menidurkan segenap wadya bala yang biasanya liar membakar itu. Rasakan jilatan-jilatan api itu setahap demi setahap mengendap menjadi genangan ornamen hidup yang santun. Biarkan semuanya menggenang sampai engkau dan Dia bahkan terasa tak berjarak ketika itu, situasi di mana segala keinginan hati menyatu akrab dengan kehendakNya selayaknya air dengan bentuk wadahnya, tiada distorsi sama sekali.

Ketika langit di benak pun diam menggenang, tiada tiupan angin pengobar api keinginan, semua terdiam dalam kebekuan azali. Jangan terlena dan masyuk hanya di tapal batas penglihatan semu jasmaniah, tutup semua argumen tentang sebab akibat, hanyut dan tetap melangkahlah sejengkal demi sejengkal ke arah pusat kejadian, maka engkau akan diterbangkan oleh seberkas sinar ke dalam luasnya pemahaman hakiki yang tanpa batas. Bagimu pakaianmu dan bagiku pakaianku, tak ada satu pun sebab akibat yang mampu memalingkanmu dari mimpi di siang bolong ini. Cukupkah sampai di situ? Hidup adalah pilihan, perjalanan ini tidak akan pernah sepi oleh pamrih dan iming-iming kawan, sesenyap apa pun suasanamu. Saat kau tertunda, semua itu hanya akan menjadi seutas fatamorgana dan secarik pengalaman semata! Maka teruskanlah, mandilah di aliran kodrat-irodat hingga bening tanpa noda. Dan jika engkau kembali kelak, biarkan mata lahirmu tetap buta... toh mata bathinmu tengah memandang keindahan tanpa halangan sama sekali.

Mengapunglah di samudera kodrat-irodat dengan tenang, lihatlah setiap bentuk kejadian apa adanya, dengarkanlah bisikan angin tanpa kau debat, sampaikanlah pesan-pesan langit itu lewat aliran darah tanpa kau manipulasi. Dan ketika daun-daun nasib yang kering itu berterbangan menembusimu, masihkah engkau merasa ada? Jika iya jawabmu, maka kelak engkau akan menderita kelelahan yang teramat sangat. Karena sebetulnya yang ada hanyalah Dia.
Read More..

15 August 2010

TENANGLAH ( Misteri Perjalanan )

Mari  ku gandeng tanganmu, tak ada alasan bagi kita untuk saling berpisah dan berjauhan. Perjalanan ini penuh misteri  dan sangat ketat menempel di ayunan langkah-langkah kecil kita. Kita selalu berhadapan dengan rahasia masa depan dan dikutit kepastian masa lalu yang absolut dan padat tanpa bisa kita ubah sama sekali. tetaplah tenang kawan, sadarilah bahwa pijakan kita hanya seutas waktu yang bernama "Saat ini", dan kita tidak pernah keluar darinya, kecuali vision-vision yang sering menggumuli alam bawah sadar segelintir orang, selebihnya kunyahlah rahasia sang waktu dan telanlah berbagai corak kenyataan bersama-sama.

Kepulan doa dan pengharapan tidak seharusnya dipaksakan menjadi pembersih kaca sang waktu, langkah dan darmalah yang mestinya menjadi pengarah. Biarkan doa-doa kita menjadi penambah tenaga dan penguat fokus perjalanan ini. Tetaplah tenang kawan....

Read More..

14 June 2010

Karib

Aku mungkin karibmu paling dungu, yang hidup di pelupukmu dan mengais harapan di kehendakmu....

Selalu mengerang dalam keluh-kesah insan papa yang sedang 'mencari' dengan segala keinginan 'konyol' untuk menandai jejak bangau yang sedang terbang. Inginnya ku terima saja gundah yang mengiringi  gumpalan ego yang tengah runtuh ini, ku biar-rasakan saja lunglai raga ini, jika itu bisa membuatmu semakin terasa karib walau temaram. Cukup semua itu menjadi pengantar segala bentuk vision yang berputar-putar liar, tanpa arah - tanpa kendali, mencoba memaknai semau-maunya kediaman eksistensimu. 

Aku mungkin karibmu paling dungu, namun aku tidak pernah ingin menistakan diriku sendiri, dan aku tidak pernah merasa seperti pungguk merindukan bulan. Di sini ada aku, di sini ada engkau, dan selalu kau temani aku menghabiskan sisa waktu 'perjalanan melingkar' ini dalam diam, namun heningmu masih membuatku sering terlena dan merasa sukar untuk merasakan engkau masih di sini. 
Teringat pongahku, berapa kali aku selalu salah memaknai kehendakmu, layaknya aku ada hak tawar menawar denganmu. 
Engkau pun tahu betapa bebalnya aku, fluktuasi yakinku sebenarnya mewakili segala resah dan harapku yang seakan terlantar di atas lembaran-lembaran nasibku. 

Aah.. aku mungkin karibmu yang paling dungu, harusnya malu ketika terlontar kata "harapku","nasibku", sedangkan engkau tengah tersenyum dalam diam, melihatku "belajar" mengarungi ruangan kosong tanpa bingkai nasib maupun sekat takdir. 


Sebelum senja turun berganti malam, biar ku genapi kedunguanku dan ku paksakan sisa-sisa permintaan kepadamu....
Jangan pisahkan gemuruh suara ini dari detakan jantung, letakkan saja paket-paket ketentuan itu di serambi tengah logikaku yang tengah jatuh-bangun ku coba untuk melipatnya - agar ringkas. Kemudian ijinkan aku mengarungi altar "nowhere" ini tetap hanya denganmu tanpa jarak dan sesuatu yang membatas sentuhanmu.
Jangan paksakan pula desakan pemahaman ini keluar dari rentetan blue print kejadian diri. Karena setelah cermin yang kau pinjamkan itu kini kusam belepotan noda, hanya template-template itulah yang kupahami sebagai shortcut untuk mengingat bahwa engkau selalu ada di dekatku, dan jika suatu saat aku tertindas oleh akunya diri, tolong buka mata kecil kesadaran sejatiku untuk memahami cahaya di atas cahayamu. 

Dan esok hari ketika matahari terbit, mestinya aku ada dalam ayunan ketentuanmu, aku ada di pelukan kehendakmu, dan aku ada di genangan welas asihmu.
Read More..

12 May 2010

Stare At The Star

Sumpah mati … ketika menyadari kilauan eksistensimu, seketika aku rata terpuruk dalam keterpesonaan. Pesona yang menelikungku dalam takjub yang takkan pernah terbandingkan oleh apa pun. Rasa-rasanya ribuan madah pujian yang pernah kulantunkan itu belum mampu mewakili sketsa wujudmu seujung kuku pun….

Aah… aku menggigil terlena, dan betapaku ingin tetap terlena di setiap kesempatan yang terselip di tarikan dan hembusan nafas ini.
Read More..

20 March 2010

Mortality

Keberangkatanmu yang terlalu pagi itu benar-benar menelantarkan sisi bathinku. Potongan-potongan pesan kosmis yang menerobos segala wujud ciptaan itu pun tak mampu merayumu untuk sejenak menunda keberangkatan itu. Padahal ingin sekali ku duduk di beranda berteman kopi kental, berbicara tentang kesejatian denganmu. Kereta waktu telah memaksakan jarak antara kita, jarak yang tak dapat diukur dengan skala duniawi apa pun.

Read More..

12 March 2010

Self Confession

Telah melewati dua alam secara linier, terbang dari satu mimpi ke mimpi lainnya, terpuruk pada satu pengingatan ke pengingatan lainnya, ternyata semua itu belum mampu juga membuatku sepenuhnya memahami destinasi dan scenario sandiwara yang terkolaborasi harmonis antara inner dan outer ini.

Ku buka saja, jika wajah dan tingkah polah ini seolah berperangai mafhum dan berlagak tahu, sejujurnya rahasianya hanya ku sangkutkan di secarik pemahaman warisan yang ter-copas dari generasi ke generasi. Pemahaman yang kadang malah membuatku terasa jauh darimu, dan tersesat di padang tandus tanpa dedaunan rasa sama sekali. Please, peranku dalam sandiwara panjang ini jangan kau suruh aku memerankan sesosok laki-laki yang mendekatimu karena pamrih.

Gelisah ini begitu menggoda, mengusik.
Benarkah jika ku katakan gundah gulana ini sebagai rindu, sedang aku “merasa” bahwa kita belum pernah ketemuan? Atau karena perasaanku yang bebal. Entahlah, seperti ada yang merampok kepribadianku, dan itu kurasakan hanya saat aku melihat kilatan cahaya keberadaanmu. Selebihnya? Aku bisa seketika menjadi seorang pamong yang mengayomi. Seketika juga menjadi perompak yang culas. Seketika menjadi raja yang bijak. Seketika menjadi budak yang berontak. Dan semua itu ter-bundle dalam satu paket yang berjudul “keherananku”.

Ku tahu pintu menuju bilikmu cukup banyak, namun maaf aku tidak sedang bicara tentang dogma dan aturan.

Aku tengah membolak-balik lembar-lembar nuraniku sendiri yang tengah “mobat-mabit” dipermainkan oleh badai perasaan. Kucari daftar log pertemuanku denganmu, de facto tak kutemukan, namun interaksi meta-ku denganmu tanpa malu sering secara sepihak ku akui sebagai pencapaianku. Kupaksakan seolah engkau tengah mengalir di seluruh penjuru dinamika lahiriahku, mencumbui rusuk-rusuk kediamanku dan meremangkan seluruh bulu-bulu pasrahku. Aku pun tak pernah tahu apakah kita saling bersambut tangan, sama seperti ketidak-tahuanku "di mana engkau kini berada".

Aku tidak sedang menjilat mu, karena sesungguhnya pijakkan kaki-kaki yakinku hanyalah hamparan prasangka baik yang sering labil. Bagiku totalitas penerimaanku akan kerahasiaanmu adalah hakekat kedekatan kita. Pendulum rasaku sering mengaba akan kehadiranmu. Biarlah bukan norma-norma eksklusif itu yang mengantarku kepadamu, karena antaraku dan kerling cahayamu tidak terhalang apapun, kecuali pengakuanku akan mu.
Read More..

03 March 2010

Pasca Badai

Pertemuanku dengan pusaran masalah ternyata membebaskanku dari kubelitan gurita. Ya ya ya…walaupun aku masih terpuruk di tikar yang sama, terkapar di ketidak berdayaan yang sama, namun mata halusku ternyata lebih bijak dan mewakiliku menjadi sebuah teropong di awang-awang rahsaku. Ternyata derita-senang hanyalah para penghuni wilayah rahsa yang berstatus nomaden belaka……

Menarik sekali mencermati tingkah polah badai yang selama ini bergolak dan sempat menghantam tengkuk lupaku, kemudian menenggelamkannya ke dalam genangan ketidak-pastian itu. Semuanya nampak jelas, walau tidak ada yang menang dan yang kalah namun akhirnya yang tertinggal hanya desisan angin yang menyayat dan menyisir hitam perasaan-perasaan kecewa. Semua termangu, kecewa ada karena harapan seperti mata-mata jiwa yang dari tadi sibuk memandangi puing-puing kenyataan di sana-sini. Puing yang oleh mata hati malah diakreditasi sebagai sesuatu yang indah. Bah… mata bathin dan mata jiwa ternyata punya standar yang berbeda. Entahlah.

Ngelangut sendiri menapaki kembali jejak-jejak api yang belum sempat membakar rata satu-satunya ageman yang ku milikki, langkah-langkahku seperti mengambang dalam diam dan serasa menyatu dalam hembusan sesal sisa prahara. Sudut-sudut pagar telah robek dan tumbang tiangnya, di alam jiwa seakan tiada lagi pohon-pohon keyakinan yang masih tegak lurus, hampir semua condong oleh hantaman badai. Sunyi ini begitu dalam, melesat hingga mencapai hentakan-hentakan detak darah yang suaranya bahkan mengalahkan bunyi serangga yang menjerit. Sengaja kubiarkan semua mengalir, toh bila musim berganti arah, maka segala sesuatu tetap mengalir menurut kodrat, ya mengalir menurut kepastian yang sudah digariskan, karena matahari pun tidak akan bisa menelan suatu keyakinan yang dipaksakan.
Read More..

25 November 2009

November Rain


Sembari mematut angan, ku pandangi rinai hujan yang asyik menyiram tanah merah menjadi genangan-genangan kerinduan. Daun-daun akasia terayun basah, ada seikat kabut rindu tengah mengapung di genangan pedih bathin yang nelangsa. Jalan ini kepalang panjang membentang, hingga sebuah lambaian tangan pun tak akan lagi nampak, walau di ujung mimpi sekali pun. Jarak nisbi itu memaksa pisah…. Memasang selembar hijab antara.

Mencoba bangkit bertahan di kaki-kaki yang gemetar, menuju asal sinar temaram kecil di sudut dinding waktu. Yaa... sinar yang hanya temaram dan kebat-kebit seperti pengharapan pada hidup yang sampai detik ini tak pernah menyisakan kepastian. Musim ini menggigil pekat seakan tidak pernah mengijinkan sinar matahari barang sejenak sambang ke ruang rasa. Dejavu … seakan segala peristiwa terulang-ulang dalam remang gelap yang dingin menusuk-nusuk kenyataan ini. Semoga di sana masih ada cahaya…..

Ngelangut… Masih saja kosong memandangi rinai hujan Nopember, kilatan halilintar yang sesekali itu tak memudarkan pengembaraan menjelajahi negeri khayal, dalam duduk terpekur ada langkah-langkah yang begitu gegas, serasa melesat ke puncak kulminasi rekaan, lalu … menukik ke dasar harapan. Dan aaah.! Ada yang terlempar..! Seonggok bangkai harapan tiba-tiba saja terpuruk di bawah jendela kaca yang tembus masa depan namun terkunci rapat itu. Wolo-wolo kuwato…. Kadang-kadang ikhlas ternyata harus diawali dari keterpaksaan, dari belajar mereguk rasa pahit… Lalu mengadaptasi kegetiran menjadi sesuatu yang lumrah tanpa rasa. Atau jika mau bisa “dipaksakan” menjadi terasa manis semanis anggur syurgawi.

Andai saja mampu membingkai tagihan-tagihan lahiriah itu menjadi sesuatu yang lebih santun, pasti akan lahir legawa untuk segera pulang menumpang di gerbong kereta nasib atau takdir sekalipun. Andai saja penghambaan ini tidak terus-menerus berkedok kemunafikan yang hanya banyak menabur harap, kemudian andai saja yang ada hanya lafal dan rasa memuja kepada sang kekasih, pasti langkah kaki akan ringan seperti kapas kering ditiup angin. Aaah…! Rinai hujan belumlah reda sedikitpun… ritmenya seperti tembang-tembang pujian yang mengalun dari pusat-pusat alam naluri. Andai saja langkah-langkah kaki tidak tersaruk juluran-juluran ego dan mampu menapak jujur.. alangkah nikmatnya menari ditingkahi ritme suara air hujan Nopember ini.

Di luar parit-parit upaya sudah sepenuhnya meluap, menghempas segala obyek eksistensi. Semua bahkan menjadi pucat pasi dan hanya tinggal menggantungkan parameter pada seutas garis tipis bernama moralitas. Luberan badai-badai kecil rekaan jiwa dahaga, selalu mengotori fatwa bijak yang tersaji di cawan-cawan kearifan disepanjang pagar akhlak. Semoga tidak menjelma sebagai kumpulan badai yang menjadi cikal bakal prahara. Prahara yang kontribusinya memalingkan dan mengubah arah nafas jiwa yang tenang jauh dari sarang hakiki.

Sembari mematut angan, dan masih duduk di serambi diri dengan berselimut dingin yang membeku. Sepercik bara yang tersisa masih terlindung dari rengkuhan basahnya air…. Kehangatan yang tidak lagi dapat dirasakan namun harus tetap ada dan menyala. Biarlah rinai hujan memaksa ekspresi diri itu terjebak di ruang persegi yang sempit dan pengap, asalkan dalam pejaman mata sekalipun bathinku dapat menari menyongsong sinar.

Read More..

23 October 2009

Dressed For Success


Pergulatan panjang mahluk kecil bernama manusia. Terjebak di kungkungan waktu dan pontang-panting mencoba menterjemahkan keinginan Tuhan.
Serumit inikah yang dikehendaki-Nya?

Sebegitu terlenanya mata mereka tersilaukan oleh alam kebendaan, seperti kesurupan, sekuat tenaga mencoba mengkompresi segala hal ke dalam bingkai waktu yang dianggapnya terbatasi oleh kapasitas… 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan seterusnya.

Sukses menjadi sebuah kata yang susah diterjemahkan apalagi untuk diraih. Terlalu banyak parameter yang disyaratkan untuk sebuah kata “sukses” yang telah dipaksa-mati untuk berhadapan dengan lajur waktu yang ada. Fasilitas, Kemewahan, Jabatan, Kekuasaan, dan Kekayaan formally diberi emblem dengan tulisan “TARGET” tampil manis di belakang podium pemikiran manusia, menjelma menjadi sukma baru untuk kata “sukses”.

Radiasi budaya itu sudah menyebar sampai ranah pola pikir independent jamaah manusia, berbaur dengan denyut darah dan keluar masuk bersama oksigen. Sebut saja para pakar kata “Sukses” yang ke sana sini dengan bayaran tinggi meniupkan definisi sukses sebagai timbunan materi dan tebaran kemudahan. Toh orang berduyun-duyun dan mau membayar mahal juga hanya untuk mendengarkan definisi kata “sukses”. Serumit itukah arti “sukses”? Lalu orang-orang itupun pulang dengan kantong penuh cerita, semangatnya tumbuh .. ingin sukses seperti yang diilustrasikan sang pakar… karena mereka saat ini merasa belum sukses!

Mari kita cerna kata sukses itu dari bumi keseharian kita sendiri yang sederhana,
kemudian jawablah sejujurnya pertanyaan “Apakah anda sukses hari ini?” Kalau anda merasa sebagai pecundang dan belum pernah merasa sukses, coba letakkan dulu rumus sukses yang sudah sekian lama digendong kesana kemari.

Perhatikan baik-baik… definisi sukses bisa juga berarti sangat sederhana karena percaya atau tidak Keberadaan anda menjadi penduduk dunia ini adalah sebuah SUKSES.

Anda adalah pemenang dalam kompetisi jutaan sperma yang berebut untuk membuahi 1 ovum. Sukses pertama Anda!
Kemudian fasilitas anggota tubuh yang sempurna tanpa cacat, itulah kesuksesan Anda kedua...
Ketika otak dan pemikiran dijejali dengan segala tetek bengek kurikulum formal sekolah, kemudian diberi stempel S1 dan sebagainya, ketahuilah di luar sana ada beribu saudara kita yang tidak mampu membeli kurikulum itu - tidak mampu bayar SPP, itulah sukses Anda ketiga...
Ketika waktu Anda diakui dan bayar oleh perusahaan atau instansi, atau mungkin hasil karya anda diakui dan laku dijual di saat 46 juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Anda keempat...
Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat diluar sana saudara kita hampir mati kelaparan karena miskin, itulah kesuksesan Anda yang kelima...

Ketika anda membaca tulisan ini … sadarilah itu juga sebagaian dari sukses anda. Diluar sana masih banyak yang belum ngeh dangan computer, apalagi ngeblog, monetizing dan lain-lain.

Sukses terjadi setiap hari, bernapas dengan gratis dan lancar hari ini … alhamdulillah…
Namun Anda tidak pernah menyadarinya…. Sukses bangun dari tidur setiap hari adalah istimewa..!! Bayangkan jika anda tidur dan tidak sukses bangun…. Hahahaha… atau ketika bangun ternyata mata anda tidak sukses melihat, atau mungkin telinga anda yang tidak sukses mendengar.

Syukurilah… Tanamkan dalam diri bahwa anda adalah sang pemenang yang sukses setiap hari…., niscaya akan tumbuh rasa syukur yang melimpah.

Ups! so patronize..!! Bukan itu maksudku, saya anggap inilah bentuk saling hamat-menghamati, getok tular, ingat mengingatkan… dan sharing.

Sukses ternyata bukan hanya gelimang harta dan kemewahan…
Tuhan sebetulnya hanya menempatkan makhluk sukses saja di muka bumi ini…
There are no losers in this world..!!

Sukses sejati adalah ketika anda bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan
kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Anda juga termasuk orang sukses ketika anda dapat menghargai kehadiran dan keberadaan sahabat, saudara, kawan dan keluarga anda sendiri. Sayangilah dan berikanlah kepada anak dan istri anda cinta yang anda punyai sepenuhnya, setiap hari! Selagi masih punya waktu, selagi masih sempat, Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal dan dipaksa untuk berpisah dengan orang-orang tercinta itu, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam,

LIFE is so SHORT.


Dressed For Success
by. Roxette

Tried to make it little by little, tried to make it bit by bit on my own.
Quit the job, the grey believers, another town where I get close to the bone.

Whatcha gonna tell your brother? - oh oh oh
whatcha gonna tell your father? - I don't know!
whatcha gonna tell your mother? - let me go...

I'm gonna get dressed for success
shaping me up for the big time, baby.

Get dressed for success
Shaping it up for your love yea yea yea.


I'm not afraid, a trembling flower, I'll feed your heart and blow the dust from your eyes
And in the dark things happen faster. I love the way you sway your hips next to mine.


Whatcha gonna tell your brother? - oh oh oh
whatcha gonna tell your father? - I don't know!
whatcha gonna tell your mother? - let me go...


I'm gonna get dressed for success, hitting a spot for the big time, baby.
Get dressed for success shaping it up for your love. look sharp!



Read More..

19 October 2009

Too Much Love Will Kill You



Tiap kali mencinta berakhir dengan luka … Tiap kali berharap berakhir dengan kecewa. Lalu kau mengeluh betapa hidup terasa tidak mau berpihak, lalu kau merasa berjalan di lembah yang kering kerontang sendirian. Kau lelah dan frustasi…. Tertawanya itu… kau rasakan sangat menyayat…. Canda dan riangnya itu… bagimu tidak lebih seperti hentakan palu yang meremukkan hati…. Jangan pernah terlalu mencintai kawan….! Yang kau kira hakmu .. ternyata hanya semu, kau tak pernah bisa memilikkinya. Jangan pernah serakah untuk memilikki seutuhnya manis senyumnya… belum tentu itu hakmu!

Jika saja kau mampu, mungkin ingin kamu lukis langit dengan maumu, lalu kau dikte Sang Penguasa untuk barter dengan egomu. Jengkal demi jengkal nalarmu ternyata tidak ada yang merdeka sepenuhnya… Sangat memalukan! Kau dikuasai oleh bayang-bayang…!! Kesadaranmu sudah sepenuhnya seperti pesakitan dan nyekukruk hanya oleh deraan angan-anganmu sendiri ….. silent war yang nyata-nyata berat sebelah. Hahahaha.. Kenyataan yang terkalahkan oleh khayalan semu…!!

Sumpah serapahmu tentang cinta suci dan bhakti murni, nyatanya hanya menggantung di gagahnya pikiran saja..!! Hahahaha …. tidak pernah ada wujudnya dan setiap saat begitu mudanya lenyap oleh lenguhan kecilmu sekalipun. Be realistic man…. Jangan mencoba mengancam arah mata angin… jangan pula pernah merayu-rayu malam untuk selalu melayani mimpi-mimpi rendahanmu. Karena mereka lebih tahu, isak tangismu itu hanya kecongkakan yang kau bungkus dengan topeng memelas, cuma sepotong jeritan keserakahan yang kau kemas menjadi sebaris doa…

Belum mampukah kau mencerna secuil kearifan yang ada di nafasmu… bahwa hidup ini “mung sak dermo nglakoni” belum mampukah kau menjadi pelakon yang taat pada scenario-Nya? Kehormatan dan prestasi puncakmu ada di antara ketundukan mu pada Sang Maha Sutradara, bukan di gelegak keinginanmu yang selalu bertubi-tubi memperkosa naluri ilahiahmu sendiri. Boleh saja kau kejar bayang-bayang napsumu sampai ke kolong kemunafikan sekalipun, tapi penentuan terakhir tetap bukan wilayahmu kawan.

Jangan terlalu mencintai…. Semua ada jatahnya.. ada porsinya, semua yang kau cintai pada saatnya akan kau tinggalkan, apalagi sesuatu yang belum sepenuhnya kau milikki. Que serra serra… dan jika datang masanya perpisahan itu, maka kamu masih akan memilikki pribadimu seutuhnya, tanpa harus kalang kabut kebakaran jenggot seakan kiamat sudah tiba. Atau kau hanya akan selalu menjadi pecundang yang senantiasa kecewa dan memelas mengharapkan cintanya? Too Much Love Will Kill You.

Jika saat ini pangkat dan jabatan itupun belum menjadi hakmu.. maka tak usah kau simpan dendam sampai menjadi bara kemudian menjelma menjadi iblis yang membakarmu sendiri.
Read More..

26 September 2009

Genderang Perang


Berusaha menjadi baik sudah menjadi keharusan masing-masing.
( Catatan kecil pasca “Ramadhan” )

Mega hajatan itu sudah lalu bersama waktu. Mestinya lagi jos-josnya kalo bicara iman di hati masing-masing.

Ternyata….
Memupus kobaran nyala “setan kecil” ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Ingin ku lipat saja.. tapi tanpa kusadari dia telah menyandera seluruh otak dan pikiranku, nalar dan segala macam dogma-dogma moral seperti lesap ditelan bumi. Meng-eliminirnya adalah suatu kemustahilan….
Merenung di tebaran derai tawa penerus-penerusku… kulihat semua begitu alami, menukik di sisi kedunguanku yang terkapar kembali ditelikung “setan-setan kecilku”

Ndomblong…..
Hanya dapat memandang nyala-nyala yang selama Ramadhan hanya redup-kecil itu mulai liar dan berkobar lagi melalap seluruh potensiku… sodokkan dan hentakkannya pada timbunan hasratku sudah mulai membuatnya terbakar dan arang kambang dikipas-kipas… akhirnya membara dalam diamku! Aku tak sempat lagi mencerna etika dan norma yang mestinya masih tersimpan di saku baju gamisku. Ya.. kadang aku merasa asing dengan kondisi yang hangar bingar memenuhi ruang kesadaranku ini. Medan perang terbuka bak tengah digelar di jagat kecilku…. Baik dan buruk sedang berhadapan saling membidikkan senjatanya masing-masing.

Ndableg…
Mimbar di depanku belum lagi ditinggalkan sang pengkhotbah.. suara takbir dan tahmid juga lamat-lamat masih terdengar …. lha koq berani-beraninya dia menyeruak dan mengobrak-abrik diam khusyukku…!! Lagi-lagi aku hanya bisa diam… sementara serambi-serambi nurani sudah dari tadi lintang pukang cerai berai berlarian menjauhi kiblat!
Aah.. rupanya aku belum kenal betul dengan desertir-desertir laten itu.. Aku sering kecolongan langkah, selalu kusadari ketika semuanya terlanjur runyam membelit seluruh hidup dan kehidupanku..

Deleg-deleg….
Bersandar ditiang “soko” rumah-Nya… serasa tuli dan kebas telingaku dari ayat-ayat-Nya. Jika saja ada obatnya, jika ada dokternya …. Jawabnya “obatnya ada dalam dirimu nak.., iman di qolbu-mu harus selalu kau siangi dan siram setiap waktu”
Aku selalu mencoba untuk tidak membuat jawaban itu sesuatu yang klise.. Kuyakini betul begitu, namun ajarkanlah shortcut atau trick agar aku bias menembakkan senjataku secepat Lucky Luke sang koboi, karena genderang perang itu telah ditabuh bertalu-talu.

Hidup adalah kumpulan perang yang mestinya mengharuskan kita membidikkan senjata ke diri kita sendiri, sebelum membidikkan ke orang lain. Karena jihad terbesar ada dalam diri.. ada perang disetiap tarikkan nafas, ada intrik-intrik asusila di setiap detak jantung.

Pulang petang kadang tidak selalu membawa hasil yang gemilang… seperti nelayan yang kuyu-lunglai setelah kepergok badai, seperti petani yang panenannya diterjang hama…. Umur kadang bukan jaminan untuk keberhasilan dan bertahtanya kebijaksanaan seseorang, walaupun kita sadari hidup hanya sekali sedang kematian datangnya tak kita ketahui.


Read More..

16 September 2009

Kosong

Kosong ide adalah situasi dimana terlintas pun tidak di pikiran ini mau menulis apa, sedangkan kondisi Kering ide adalah situasi yang lebih membuat jengah, rasanya tidak ada yang pantas semua ide-ide yang mengalir di batok kepala kita.
Mendadak ingat....

Lebaran tiba…!!

Dan di mana-mana bertebaran pasangan kata yang ternyata membuat salah kaprah kita semua. "Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin"
Minal Aidin Wal Faidzin yang mestinya berarti ”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).”

Aslinya emang nggak ada hubungan langsung dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir Bathin”, tapi ketika dicampur pengucapannya seperti selama ini.. membuat orang awam seperti saya ini suka mengira jika Minal Aidin …. itu berarti Mohon maaf Lahir Bathin.. hahaha.. harap maklum saja karena saya terlahir dengan hidung pesek..bukan terlahir jadi orang Arab, jadi suka bingung kalo dengar istilah kearab-araban.

Belum lagi istilah “Halal Bil Halal” yang katanya memang bukan dari budaya Arab, tetapi disinyalir murni muncul dari budaya kita sendiri. Terserah masing-masing meyakininya… kalau saya sich melihat sisi positifnya saja..

Eniwei baidewei buswei……
Jika saja ada salah kata dalam postingan, maupun komentar-komentar saya di postingan kalian maupun yang di shoutbox yang membikin kawan-kawan sesama blogger tidak enak hati…, entah karena kesengajaan atau hanya karena candaan yang kebablasan, dan itu ternyata menyinggung atau menyakitkan perasaan kalian, maka di hari yang baik ini dengan segala hormat dan kerendahan hati saya ucapkan :




SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
1 Syawal 1430 Hijriah ( Sept. 2009)

Mohon Maaf Lahir dan Batin


“Taqobbalallahu minna wa minkum, Taqabbal ya Karim”


Read More..

14 September 2009

Lingkaran Kehidupan


Ramadhan sudah di penghujungnya.... value apa yang dapat kita petik darinya?
Sudahkah nyala-nyala setan kecil dalam diri ini terkendali menjadi nyala-nyala api kehidupan yang menghidupkan? Atau pancet (tetap) tak terkendali yang sewaktu-waktu siap membakar....??
Aah ... selalu kurindukan saat-saat seperti ini, dikala manusia di permukaan bumi ini secara berjamaah (massal) sadar diri (minimal mencoba) akan eksistensi jati dirinya sebagai sais –sang pemegang kendali bukan menjadi keledai dungu yang justru dikendalikan oleh setan-setan kecil.
Ramadhan dirancang dan diselenggarakan oleh Yang Maha Kuasa sebagai moment massive agar manusia kembali sadar dan terbangun.. bahwa dirinya adalah titah unggul yang di dalamnya bersemayam secarik harkat ketuhanan... Ruh titipan Sang Pencipta.

Berikan tempat bernafas selama sebulan ini, agar fakultas ilahiah tersebut sejenak eksis... fakultas inilah yang sering saya sebut “Kawan Kecil nan ringkih” karena seringnya tertimbun oleh tumpukan angkara ... kobaran amarah.... genangan syahwat.... dan semua akumulasi karya-karya setan-setan kecil kita sendiri.
Hakekat kehidupan kita ada bersama “kawan kecil”... cetak biru yang kelak menjadi penyaksi segala tingkah polah dan kepongahan kita di hadapan Sang Khalik. Betapa mulianya “Kawan Kecil” kita ini di hadapan-Nya... si kecil yang menjadi Pelakon Utama panggung kehidupan ini, yang menjadi sebuah driver bagi Tuhan untuk memperkenal diri-Nya.
Tak terkecuali Ramadhan saja! Bahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia Tuhan selalu memperkenalkan event-event ritual beserta utusan-utusan-Nya untuk memelihara dan mendefrag logika berfikir manusia agar memakai driver-driver original yang secara default terinstall sejak peniupan pertama. Ternyata Tuhan sangat mafhum... penciptaan akal budi dalam otak manusia pada akhirnya kelak justeru akan menjadi pemicu terciptanya driver-driver mutakhir yang lebih menyita cara berfikir manusia cenderung duniawiah semata. Sadarkah jika bukan itu tujuan akhirnya? Duniawi yang di depan mata kita selalu hiruk pikuk ini, absolutely akan kita tinggalkan.... rela tidak rela! Dan tidak lebih selembar kafan saja yang ikut ke liang lahat! Fasilitas apapun yang kita milikki baik itu material ataupun spiritual hanya sebatas “sarana” yang perlu dipertanggung jawabkan pemakaiannya. Hakekat kehidupan ini tidak lebih dan tidak kurang adalah “Innalillahi wa innailaihi roji’un” believe it or not! Suatu proses perjalanan melingkar yang berawal dari peniupan sebagian ruh-Nya... dan kelak (jika sempurna) akan kembali kepada-Nya. Betapa cintanya Tuhan terhadap “kawan kecil” yang ada dalam diri kita masing-masing... Beliau tidak melepaskan begitu saja “kawan kecil nan ringkih” ini berjalan pulang tanpa direction di arena panggung sandiwara kehidupan ini. Beliau bela-belain ngutus Nabi dan Rasul..... menciptakan event-event ritual semacam ramadhan... haji... kurban dan lain-lain, belum lagi masterpiece-masterpiece berupa kitab-kitab suci... semua itu semata-mata untuk membekali “kawan kecil” agar tahu jalan pulang dan membentuk lingkaran yang sempurna. Lingkaran akan disebut sempurna jika ujung-ujungnya tepat bertemu di satu titik.... “Sesuatu yang berasal dari Tuhan, akan kembali ke Tuhan”.
Jati diri manusia....!!! Ramadhan adalah salah satu sarana yang diselenggarakan Tuhan agar manusia kembali ke jati dirinya masing-masing.... agar tidak lupa jalan pulang. Anggap saja Ramadhan sebagai latihan mensucikan diri secara massal.... Kenapa harus suci? Well.. Tuhan adalah Maha Suci, hanya segala sesuatu yang suci yg dapat kembali kepada-Nya ... Innalillahi wa inailaihi roji’un. So...sudahkah kita manfaatkan event Ramadhan ini seperti dimaksud oleh Sang Maha Penyelenggara? Wallahu’alam.. it’s all coming back to us.
Read More..