Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

05 January 2011

Salah Kaprah

Jangan berharap bisa lelap, karena malam masih terperangkap di pertengahan jalan becek dan licin tak berujung. Dingin sayu mengikat semua rasa jengah gerombolan-gerombolan penyakit sosial yang kian merebak memporak-porandakan semua alunan lullaby yang biasanya membuai. Beribu kutuk berhamburan mengotori embun malam dan memacu adrenalin dan jutaan emosi yang menyentak ubun-ubun. Membakar telinga....!! Kenyataannya belum ada yang bisa dipercaya dan diharapkan membersihkan pemerkosa-pemerkosa mimpi itu. Mimpi yang seharusnya milik bersama itu, mengapa harus mereka kangkangi sendiri? Mimpi tentang negeri yang serba prosperous, tanpa tangis aib dan derita nista.

Deras anginnya belum lagi stabil benar, jangan bongkar pematang-pematang itu, atau semua etika dan norma hidup akan tergilas oleh culasnya insting modern, yang serakahnya sudah blak-blakan tanpa malu sedikit pun. Sayangnya banyak yang merasa tertindas oleh gundukan-gundukan lurus yang terasa menjemukan itu, semua pada ketakutan jika sekat-sekat tanah itu ternyata berduri dan berubah jadi penjara nurani "komunitas itu".

Read More..

25 November 2009

November Rain


Sembari mematut angan, ku pandangi rinai hujan yang asyik menyiram tanah merah menjadi genangan-genangan kerinduan. Daun-daun akasia terayun basah, ada seikat kabut rindu tengah mengapung di genangan pedih bathin yang nelangsa. Jalan ini kepalang panjang membentang, hingga sebuah lambaian tangan pun tak akan lagi nampak, walau di ujung mimpi sekali pun. Jarak nisbi itu memaksa pisah…. Memasang selembar hijab antara.

Mencoba bangkit bertahan di kaki-kaki yang gemetar, menuju asal sinar temaram kecil di sudut dinding waktu. Yaa... sinar yang hanya temaram dan kebat-kebit seperti pengharapan pada hidup yang sampai detik ini tak pernah menyisakan kepastian. Musim ini menggigil pekat seakan tidak pernah mengijinkan sinar matahari barang sejenak sambang ke ruang rasa. Dejavu … seakan segala peristiwa terulang-ulang dalam remang gelap yang dingin menusuk-nusuk kenyataan ini. Semoga di sana masih ada cahaya…..

Ngelangut… Masih saja kosong memandangi rinai hujan Nopember, kilatan halilintar yang sesekali itu tak memudarkan pengembaraan menjelajahi negeri khayal, dalam duduk terpekur ada langkah-langkah yang begitu gegas, serasa melesat ke puncak kulminasi rekaan, lalu … menukik ke dasar harapan. Dan aaah.! Ada yang terlempar..! Seonggok bangkai harapan tiba-tiba saja terpuruk di bawah jendela kaca yang tembus masa depan namun terkunci rapat itu. Wolo-wolo kuwato…. Kadang-kadang ikhlas ternyata harus diawali dari keterpaksaan, dari belajar mereguk rasa pahit… Lalu mengadaptasi kegetiran menjadi sesuatu yang lumrah tanpa rasa. Atau jika mau bisa “dipaksakan” menjadi terasa manis semanis anggur syurgawi.

Andai saja mampu membingkai tagihan-tagihan lahiriah itu menjadi sesuatu yang lebih santun, pasti akan lahir legawa untuk segera pulang menumpang di gerbong kereta nasib atau takdir sekalipun. Andai saja penghambaan ini tidak terus-menerus berkedok kemunafikan yang hanya banyak menabur harap, kemudian andai saja yang ada hanya lafal dan rasa memuja kepada sang kekasih, pasti langkah kaki akan ringan seperti kapas kering ditiup angin. Aaah…! Rinai hujan belumlah reda sedikitpun… ritmenya seperti tembang-tembang pujian yang mengalun dari pusat-pusat alam naluri. Andai saja langkah-langkah kaki tidak tersaruk juluran-juluran ego dan mampu menapak jujur.. alangkah nikmatnya menari ditingkahi ritme suara air hujan Nopember ini.

Di luar parit-parit upaya sudah sepenuhnya meluap, menghempas segala obyek eksistensi. Semua bahkan menjadi pucat pasi dan hanya tinggal menggantungkan parameter pada seutas garis tipis bernama moralitas. Luberan badai-badai kecil rekaan jiwa dahaga, selalu mengotori fatwa bijak yang tersaji di cawan-cawan kearifan disepanjang pagar akhlak. Semoga tidak menjelma sebagai kumpulan badai yang menjadi cikal bakal prahara. Prahara yang kontribusinya memalingkan dan mengubah arah nafas jiwa yang tenang jauh dari sarang hakiki.

Sembari mematut angan, dan masih duduk di serambi diri dengan berselimut dingin yang membeku. Sepercik bara yang tersisa masih terlindung dari rengkuhan basahnya air…. Kehangatan yang tidak lagi dapat dirasakan namun harus tetap ada dan menyala. Biarlah rinai hujan memaksa ekspresi diri itu terjebak di ruang persegi yang sempit dan pengap, asalkan dalam pejaman mata sekalipun bathinku dapat menari menyongsong sinar.

Read More..

28 September 2009

Larangan Berjilbab itu.......

Ketika membersihkan inbox email, nemu artikel yang sangat menyentuh ini.. Kiriman dari kawan saya...
Kepada penulis aslinya jika membaca postingan ini.. sekalian mohon ijin untuk mempublishnya di blog saya ini demi kemaslahatan bersama.
Saya hanya copas cerita ini semoga bermanfaat bagi kita semua.
Terutama buat mereka yang mempunyai nasib yang tragis seperti yang dialami salah satu tokoh yang dikisahkan dlm cerita ini.


MENGAPA AKU DILARANG BERJILBAB?

Ada seorang teman saya, suatu hari terpanggil untuk memakai jilbab.
Karena hatinya sudah tetap, dia pun pergilah ke toko muslim untuk membeli jilbab. Setelah membeli beberapa pakaian muslim lengkap bersama jilbab dengan berbagai model (maklum teman saya itu stylish sekali), dia pun pulang ke rumah dengan hati suka cita.

Sesampainya di rumah, dengan bangga dia mengenakan jilbabnya.
Ketika dia ke luar dari kamarnya, bapak dan ibunya langsung menjerit. Mereka murka bukan main dan meminta agar anaknya segera melepaskan jilbabnya.

Anak itu tentu merasa terpukul sekali...bayangkan :
Ayah ibunya sendiri menentangnya untuk mengenakan jilbab.

Si anak mencoba berpegang teguh pada keputusannya akan tetapi
ayah ibunya mengancam akan memutuskan hubungan orang-tua dan anak bila ia berkeras. Dia tidak akan diaku anak selamanya bila tetap mau menggunakan jilbab. Anak itu menggerung-gerung sejadi-jadinya. Dia merasa menjadi anak yang malang sekali nasibnya.

Tidak berputus asa, dia meminta guru tempatnya bersekolah untuk berbicara dengan orang tuanya. Tapi apa lacur sang guru pun menolak keras.

Dia mencoba lagi berbicara dengan ustad dekat rumahnya untuk membujuk orangtuanya agar diizinkan memakai jilbab...hasilnya? Nol besar! Sang ustad juga menolak mentah-mentah.

Belum pernah rasanya anak ini dirundung duka seperti itu.
Dia merasa betul-betul sendirian di dunia ini. Tak ada seorang pun yang mau mendukung keputusannya untuk memakai jilbab.

Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan trik terakhir. Ditemuinya sendiri kedua orang tuanya, dan Dia berkata,"Ayah dan ibu yang saya cintai. Saya tetap akan memakai jilbab ini. Kalau tidak diizinkan juga saya akan bunuh diri."

Sejenak suasana menjadi hening.
Ketegangan mencapai puncaknya dalam keluarga itu. Akhirnya sambil menghela napas panjang,si ayah berkata dengan lirih,

"Bambang! Nek kowe cah wedok sak karepe ngono."
(Bambang! Kalau kamu itu cewek, sesuka hatimu lah ..)
"Lha kowe ki lanang.. lha kok arep nganggo jilbab?"
(Lha Kamu itu laki-laki.. koq mau pake jilbab ?")


Dasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar.............!!
Hahaha... ternyata ceritanya "menyentuh" rasa geli saya...!!
Read More..