Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

30 May 2011

Silent Tempest

Dalam diam....
Kilatan-kilatan nasib selalu bergerak tanpa dapat diduga, meliuk resah.. melambung gempita.. lalu menukik pedih, kadang terbata-bata dalam gelapnya rasa .... Tiada satu pun yang dapat mendiktenya, naturally melenggang berlari dari waktu ke waktu menjadi dinamika yang alamiah, di mana manusia sering dibuat lintang-pukang olehnya, dan kalau pun seseorang merasakan ketukan-ketukan nasibnya sudah sesuai dengan keinginan diri, maka janganlah berbangga dulu bahwa seakan sang nasib telah bisa ditaklukkan, waspadalah. Karena selalu ada kerlingan kebenaran yang akan memfilter setiap luapan amarah, dan prasangka buruk, sedangkan nasib tetap terus melaju menggilas siapa pun bagai roda liar.

Read More..

09 August 2010

Introspeksi Diri

Ketika satu telunjuk mengarah ke depan, maka tiga jari menunjuk ke mukaku sendiri...
Seolah ketiga jariku tengah menghardikku!
Berbangga-banggalah dengan duniamu, bersombong-sombonglah dengan rasa kemanusiaanmu. Pikullah beban hidup seolah atas kuasamu sendiri. Sekuat apakah? Dunia sudah digelar sejak tangisan pertamamu, keputusan ada di tanganmu manusia! Kau ciptakan sendiri medan perangmu sendiri, kau hadirkan sendiri musuh-musuhmu, kau adakan sendiri rintangan-rintanganmu. Tantanglah dunia sehebat potensimu, ambil alih semua wilayah-Nya, seserakah mungkin, rekayasalah semua kejadian sehingga kau bahkan merasa lebih berkuasa dan pada-Nya, toh yang kau sebut Tuhan itu diam saja. Merasalah bahwa hidup hanya sekali, merasalah tidak akan ada pertanggung-jawaban atas tingkah polahmu. Libaslah saja apa pun yang bisa kau libas, terkam saja apa pun yang bisa kau terkam, injak saja apa pun yang bisa kau injak, langgar saja apa pun yang bisa kau langgar! Puas-puaskanlah... toh yang kau sebut Tuhan tidak dengan serta merta menghukummu? Dunia sudah digelar sejak tangisan pertamamu, silahkan berpendapat segarang-garangnya, merasalah paling benar sendiri. Putarlah lidahmu sepandai-pandainya, putar balikkanlah kebenaran semaumu, jadikan hukum-hukum manusia itu permainan! Yang penting kau menang.... , toh menurutmu yang kau sebut Tuhan itu diam saja, bukan?

Read More..

11 June 2010

Moral Decadence

Atas nama kebebasan maka silahkan kentut sesukanya atau simpan serapat-rapatnya, toh angin tetap berhak untuk menyebarkan bau busuk itu suatu saat.
Mengapa harus menyalahkan angin, yang menyampaikan kentut ke mana-mana itu?


Menyikapi peredaran video mesum artis papan atas negeri Begajul ini (meminjam istilah Ki Demang Jogloabang)yang dampaknya begitu bombastis, fantastis dan spektakuler menerobos semua wilayah media yang satu sama lainnya dengan mudah melakukan konversi.


Kemudahan konversi antar media ini semakin menambah laju penyebaran video mesum berada jauh di luar batas kendali lembaga-lembaga yang bertanggung jawab mengontrol mutu dan moralitas informasi yang beredar. Menerobos inter media itu berarti juga menerobos ke seluruh kalangan, strata, dan lingkungan. Seakan mengukuhkan seberapa begajulnya derajat kebegajulan penghuni negeri begajul, karena semakin transparannya mata publik.

Read More..

12 March 2010

Self Confession

Telah melewati dua alam secara linier, terbang dari satu mimpi ke mimpi lainnya, terpuruk pada satu pengingatan ke pengingatan lainnya, ternyata semua itu belum mampu juga membuatku sepenuhnya memahami destinasi dan scenario sandiwara yang terkolaborasi harmonis antara inner dan outer ini.

Ku buka saja, jika wajah dan tingkah polah ini seolah berperangai mafhum dan berlagak tahu, sejujurnya rahasianya hanya ku sangkutkan di secarik pemahaman warisan yang ter-copas dari generasi ke generasi. Pemahaman yang kadang malah membuatku terasa jauh darimu, dan tersesat di padang tandus tanpa dedaunan rasa sama sekali. Please, peranku dalam sandiwara panjang ini jangan kau suruh aku memerankan sesosok laki-laki yang mendekatimu karena pamrih.

Gelisah ini begitu menggoda, mengusik.
Benarkah jika ku katakan gundah gulana ini sebagai rindu, sedang aku “merasa” bahwa kita belum pernah ketemuan? Atau karena perasaanku yang bebal. Entahlah, seperti ada yang merampok kepribadianku, dan itu kurasakan hanya saat aku melihat kilatan cahaya keberadaanmu. Selebihnya? Aku bisa seketika menjadi seorang pamong yang mengayomi. Seketika juga menjadi perompak yang culas. Seketika menjadi raja yang bijak. Seketika menjadi budak yang berontak. Dan semua itu ter-bundle dalam satu paket yang berjudul “keherananku”.

Ku tahu pintu menuju bilikmu cukup banyak, namun maaf aku tidak sedang bicara tentang dogma dan aturan.

Aku tengah membolak-balik lembar-lembar nuraniku sendiri yang tengah “mobat-mabit” dipermainkan oleh badai perasaan. Kucari daftar log pertemuanku denganmu, de facto tak kutemukan, namun interaksi meta-ku denganmu tanpa malu sering secara sepihak ku akui sebagai pencapaianku. Kupaksakan seolah engkau tengah mengalir di seluruh penjuru dinamika lahiriahku, mencumbui rusuk-rusuk kediamanku dan meremangkan seluruh bulu-bulu pasrahku. Aku pun tak pernah tahu apakah kita saling bersambut tangan, sama seperti ketidak-tahuanku "di mana engkau kini berada".

Aku tidak sedang menjilat mu, karena sesungguhnya pijakkan kaki-kaki yakinku hanyalah hamparan prasangka baik yang sering labil. Bagiku totalitas penerimaanku akan kerahasiaanmu adalah hakekat kedekatan kita. Pendulum rasaku sering mengaba akan kehadiranmu. Biarlah bukan norma-norma eksklusif itu yang mengantarku kepadamu, karena antaraku dan kerling cahayamu tidak terhalang apapun, kecuali pengakuanku akan mu.
Read More..

19 January 2010

Megatruh


Seumur hidup mengapung di lautan lupa, kemudian terombang-ambing di ayunan pemahaman. Sungguh langkah evolusi kecilku ini sangat tekun dan istiqomah, merambat dari waktu ke waktu mengemas setiap kesempatan. Satu-satunya batok berisi bunga-bunga keingin-tahuan ku terasa selalu kedodoran, karena ada yang selalu mengembang terhisap sang jaman, sedangkan kesempatanku telah berubah menjadi kesempitan.

Setiap kali kita berhadap-hadapan, betapaku berusaha bersikap semesra mungkin. Sesungguhnya di balik ndremimil bibirku, dahagaku ingin memasuki gerbang terhalus yang menuju ke genangan air kehidupan itu dan byar katrawangan … larutlah bagian-bagian ragaku seluruhnya, mengikuti hembusan angin hayati di alam putih tanpa batas. Namun menjengkelkan! Saat menukik, ada yang mengungkit-ungkit diam dan hitam khusukku, dan itu membuatku sangat paranoid oleh kilatan lempengan-lempengan ragu yang menebas kesana kemari. Kemudian seenaknya meng-infiltrasi putaran nafasku dan menyebar mencemari bilik-bilik hakiki denyutan energi ruhiyahku.

Hoiiii..!! Tunggu sekejap saja, aku belum siap! Sosok eksistensi ini masih sepenuhnya terbungkus selimut fana… Tunggulah, ku persiapan dahulu segala sesuatunya dan ku letakkan segala bentuk warna dan pewarnaanku, biar menjadi terminal akhir yang sempurna! Begitulah ucapan klise konsumsi akar-akar lupa, yang selalu mengganjal di antara dua kerelaanku. Pahamilah wahai segerombolan kejadian, kembalilah di saat kau ingin kembali kapan saja! Hiruplah penyatuanmu setiap saat, tiada jarak ruang dan waktu, karena denyut nadimu adalah bagian dari keberadaan itu. Jika kau mau teliti sejenak, di deretan ribuan daftar kefanaanmu ada celah-celah halus yang purbawi telah mengarah menuju bilik-bilik mempelai. Tak kau rasakah desiran-desiran halus, yang disetiap hembusan nafas hidupmu.. dia tercecer di dasar pemahamanmu? Selalu dan selalu itu yang terjadi... kau terlantarkan mengering, teronggok menjadi kumpulan teori yang menjadi bahan perdebatan. Kelupaanmu itu telah dengan sistematis menjerat dan mengubah arah pandanganmu!

Bukankah Dia lebih dekat dari urat lehermu sendiri? Maka bergegaslah ..! Event itu tidak terjadi di mana atau kapan, mengapa kau bingkai seolah engkau berapa di ujung yang sangat jauh dari tujuan awal itu? Ambil hakmu untuk sesekali kau belajar mengenal bahwa pemilik kekekalan itu ada dalam dirimu, dalam nafasmu, dalam darahmu dan terikut dalam Takbiratul Ikram. Ambil hakmu untuk sesekali merasakan tajjali itu. Jangan khawatir, karena masih ada tasyahud yang akan menjaga kefanaan yang sangat kau sayangi ini. Dan jangan khawatir kenikmatan yang semu ini akan tercerabut sebelum saatnya… Karena di dalam Al Fatehah masih ada bagianmu dan bagian-Nya.
Read More..

27 December 2009

A Mother's Love



“A mother’s love and compassion for her children is one of the strongest and purest forms of God mercy”.
Manifestation of God's love.
Sosok raga nan ringkih itu bersikeras memanggul beban dari detik ke detik, bidang demi bidang, tapak demi tapak untuk menjadi wali-Nya. Kadang penampakan wujudnya sangat halus, gemulai langkah-geraknya menyatu dengan angin….. Meliuk membuai menina-bobokan seluruh nafas-nafas yang merayap di permukaan bumi ini.. .

Kadang begitu lincah dan sangat cekatan mengendalikan ujung-ujung hari... dari siang ke malam dan kembali malam ke siang. Berkelebatan ke sana ke mari bak pendekar memainkan jurus-jurus andalan. Jurus-jurus yang itu-itu saja dan mungkin ( sebenarnya ) telah lama mengendap dan mengerak di dasar kebosanannya.

Helaan nafas demi nafas bercampur keringat di keningnya adalah bara yang membakar harapan dan memberi hidup bagi sang penerus jaman… Memapah, membelai, dan mendekap setia benih-benih kehidupan, lalu memastikannya tetap menggeliat dan melangkah dalam hidup.

Kristalisasi duka, derita, kecewa, senang, bangga dan bahagianya selalu menjadi airmata yang menetes jatuh menyeberangi aroma syurga, kemudian lesap membasuh dahaga bumi dan menyurutkan intensitas murkanya. Pancaran-pancaran lembut di garis wajahnya yang perlahan menua senantiasa teduh, jauh dari jebakan putus asa, dan itu bukan topeng palsu…! Makhluk perkasa yang dikemas dalam raga ringkih itu berdiri di antara perebutan kepentingan dalam dirinya, antara status “pangeran katon” dengan kodratnya sebagai makhluk pesolek. Tangan-tangannya yang halus-lentik kini telah berubah menebal dan kasar, karena harus selalu mencakar menyiangi kehormatan keluarga agar tetap harum.

Detak nadi dan nafasnya adalah masa depan, keluh kesahnya adalah bantal-bantal pijakan kaki anak-anak sang waktu. Lamunan-lamunannya dan air matanya adalah doa bagi tanah yang subur bermandi berkah. Dari pelupuk marahnya ada bulir-bulir pupuk yang akan membentuk tanaman-tanaman kecil itu kelak tumbuh lurus menjulang. Dia adalah manifestasi kasih sayang dan kelembutan sang bumi.

Makhluk gemulai itu yang rela menggadaikan sebagian waktu hidup dan kesetiaannya demi persemaian generasi titipan tuhannya. Tak pernah sekali pun berpikir untuk menakar imbalan yang tergantung di samping pintu kasihnya. Imbalan yang senyatanya tak pernah sebanding dengan penat bahu dan tungkai gelisahnya. Dia tak pernah membisikkan sepatah kata pun kepada angin keinginan untuk memadankan aliran keringatnya dengan reward atau pun award apa pun. Bahagianya telah pergi dan menyatu bersama lempengan-lempengan kehidupan makhluk-makhluk yang telah dilahirkannya.

Terima kasihku selalu tulus untuknya… untuk makhluk gemulai yang selalu di panggil “Ibu”, “emak”, “umi”.”biyung”,”mama” itu.
Bagiku “Hari Ibu” adalah setiap waktu… dan itu berlaku selama darahku masih mengalir dan jantungku masih berdetak.

( nyuplik dikit lirik lagu A Mother's Love - Diana Ross )

A mother's love is forever

A mother's love is for free
It doesn't matter if you're good or bad
She's there for whatever you need

Doesn't matter if you're good or bad
There's nothing like a mother's love
Betapaku sekarang sangat kesulitan walau hanya untuk sungkem mencium tangannya dan bersimpuh di ujung kain kebayanya. Saat ini aku berendam di tumpukan sesal dan saat ini yang kupunya hanya seikat doa dan sesobek Dummies Poem untuknya … Semoga diterima semua amal bhaktinya dan diampuni segala khilaf-dosanya, serta diberi tempat yang layak di sisi-Nya. Amieen...

Oya sekalian saja, takut kalo berlarut-larut kelamaan, saya baru saja sempat menjemput 2 award persahabatan dari :
Saudara Afdil si tukang Referensi dan Registrasi



Dan satu lagi dari Kang Sugeng - The great person.


Terima kasih banyak atas kebaikannya, apapun bentuknya award-award itu sangat berarti bagiku. Bukan fisik awardnya itu sendiri yang memberi bobot…. Tetapi kerelaan kawan-kawan merima saya untuk masuk ke dalam bagian hidup kalian, tepatnya di dalam bilik ruangan yang bernama PERSAHABATAN. Dan itu membuat hidupku ini semakin indah saja.
Terima kasih.
Read More..

17 December 2009

Anxiety

Ingin ku punguti gelisah itu selagi tanah masih basah, atau terlambat dan semua berubah menjadi arang hitam seluas mata memandang. Duhai gelisah …. warnai sepiku dengan kilauan sinar semu itu, lalu wakili aku barang sekali untuk mereguk genangan rasa yang membuai itu, habiskanlah sampai kering dan jangan sisakan sedikit pun walau hanya setitik kecil harapan untukku.


Ternyata sangat susah mempertahankan diri dari hempasan hasrat sendiri!
Aku adalah kumpulan sengsara yang tersembunyi di lipatan senda tawa, pontang-panting menangkap anak panah yang melesat dari busur di tanganku sendiri, yang kepalang lesap menuju sasaran nisbi, lalu gemeretak menghujam keras di ruang hampa. Sungguh tak nyaman rasanya menghuni ceruk-ceruk dangkal yang berlepotan sisa-sisa hawa rendah, serasa menggauli bayangan frame-frame waktu dengan berteman lenguhan nelangsa. Sesekali tersadar, kudapati diri ini bukanlah eksistensi yang bebas merdeka sepenuhnya, walau hanya untuk mengulurkan tangan sekali pun.

Ternyata sangatlah susah membungkam gelombang badai yang sudah sekian waktu meluluh-lantakan akal sehatku. Tersipu beku benakku menatap gugusan kabut kelam timbunan harap yang mengambang di awang-awang itu, perlahan mengalun menyulam detik menjadi menit, kemudian tiba-tiba telah kuasa mencekik seluruh nalarku! Di bawah tempayan-tempayan realita ini… bertebaran pecahan-pecahan harap yang hangus terpanggang api hasrat. Gundah ini terasa asing melangkah di bilik hati sendiri, ada yang menyeruak mendobrak ketenangan nafas yang damai mengalir di deretan jejak. Ya deretan yang selamanya terpisah oleh musim yang berbeda.

Ternyata sangatlah susah mengenali bagian diri yang tengah tertutup temaram kabut hitam yang meliar…. Akal sehat pun telah berkali terkapar dan gagal mencerna deskripsi dorongan liar yang senantiasa meronta dan nyaris menghanguskan seluruh ruangan di pelosok bangunan ini. Sementara ujung-ujung imaginasiku tak pernah berhenti melukis mimpi dan parahnya malah nekat menyemai benih-benih rasa di atas bongkahan batu norma yang keras dan panas menyengat. Betapa sisi ruang hati ini telah lama terluka menganga ditusuk ditikam runcingnya keinginan sendiri. Wahai pagi..., jangan kau obati luka hati ini jika hanya akan membuat riak air kecii itu menjadi badai prahara.
Read More..

25 November 2009

November Rain


Sembari mematut angan, ku pandangi rinai hujan yang asyik menyiram tanah merah menjadi genangan-genangan kerinduan. Daun-daun akasia terayun basah, ada seikat kabut rindu tengah mengapung di genangan pedih bathin yang nelangsa. Jalan ini kepalang panjang membentang, hingga sebuah lambaian tangan pun tak akan lagi nampak, walau di ujung mimpi sekali pun. Jarak nisbi itu memaksa pisah…. Memasang selembar hijab antara.

Mencoba bangkit bertahan di kaki-kaki yang gemetar, menuju asal sinar temaram kecil di sudut dinding waktu. Yaa... sinar yang hanya temaram dan kebat-kebit seperti pengharapan pada hidup yang sampai detik ini tak pernah menyisakan kepastian. Musim ini menggigil pekat seakan tidak pernah mengijinkan sinar matahari barang sejenak sambang ke ruang rasa. Dejavu … seakan segala peristiwa terulang-ulang dalam remang gelap yang dingin menusuk-nusuk kenyataan ini. Semoga di sana masih ada cahaya…..

Ngelangut… Masih saja kosong memandangi rinai hujan Nopember, kilatan halilintar yang sesekali itu tak memudarkan pengembaraan menjelajahi negeri khayal, dalam duduk terpekur ada langkah-langkah yang begitu gegas, serasa melesat ke puncak kulminasi rekaan, lalu … menukik ke dasar harapan. Dan aaah.! Ada yang terlempar..! Seonggok bangkai harapan tiba-tiba saja terpuruk di bawah jendela kaca yang tembus masa depan namun terkunci rapat itu. Wolo-wolo kuwato…. Kadang-kadang ikhlas ternyata harus diawali dari keterpaksaan, dari belajar mereguk rasa pahit… Lalu mengadaptasi kegetiran menjadi sesuatu yang lumrah tanpa rasa. Atau jika mau bisa “dipaksakan” menjadi terasa manis semanis anggur syurgawi.

Andai saja mampu membingkai tagihan-tagihan lahiriah itu menjadi sesuatu yang lebih santun, pasti akan lahir legawa untuk segera pulang menumpang di gerbong kereta nasib atau takdir sekalipun. Andai saja penghambaan ini tidak terus-menerus berkedok kemunafikan yang hanya banyak menabur harap, kemudian andai saja yang ada hanya lafal dan rasa memuja kepada sang kekasih, pasti langkah kaki akan ringan seperti kapas kering ditiup angin. Aaah…! Rinai hujan belumlah reda sedikitpun… ritmenya seperti tembang-tembang pujian yang mengalun dari pusat-pusat alam naluri. Andai saja langkah-langkah kaki tidak tersaruk juluran-juluran ego dan mampu menapak jujur.. alangkah nikmatnya menari ditingkahi ritme suara air hujan Nopember ini.

Di luar parit-parit upaya sudah sepenuhnya meluap, menghempas segala obyek eksistensi. Semua bahkan menjadi pucat pasi dan hanya tinggal menggantungkan parameter pada seutas garis tipis bernama moralitas. Luberan badai-badai kecil rekaan jiwa dahaga, selalu mengotori fatwa bijak yang tersaji di cawan-cawan kearifan disepanjang pagar akhlak. Semoga tidak menjelma sebagai kumpulan badai yang menjadi cikal bakal prahara. Prahara yang kontribusinya memalingkan dan mengubah arah nafas jiwa yang tenang jauh dari sarang hakiki.

Sembari mematut angan, dan masih duduk di serambi diri dengan berselimut dingin yang membeku. Sepercik bara yang tersisa masih terlindung dari rengkuhan basahnya air…. Kehangatan yang tidak lagi dapat dirasakan namun harus tetap ada dan menyala. Biarlah rinai hujan memaksa ekspresi diri itu terjebak di ruang persegi yang sempit dan pengap, asalkan dalam pejaman mata sekalipun bathinku dapat menari menyongsong sinar.

Read More..

03 July 2009

Sang Jenderal Bengek


Perang yang paling seru itu menyita seluruh petinggi negeri liliput yang bernama hati!! Tanpa gemerincing suara tombak… tanpa desingan peluru.. nyatanya mampu merobek tatanan hingga yang paling dasar. Face to face aku selalu berhadapan dengan desertir-desertir kecil yang nyelip di lingkar kearifan dan kebijaksanaanku sendiri. Tanpa jeda serangan halus namun dahsyat itu terus berhamburan dan beruntun. Menggelayut manja seakan tidak sembada … namun bekasnya mampu melumpuhkan seluruh akal budi.

Jika ada disiplin ilmu… apa namanya? Moral? Agama? Pekerti? Seberapa kuat pengaruhnya? Bicaralah realita saja! Setan-setan kecil itu lebih kuat ternyata.. lebih pro modernitas. Lebih familiar dengan gaya hidup glamour, kebebasan, dan unlimitted humanisme. Jika memaksakan pendapat bahwa setan-setan itu gentayangan gara-gara perut lapar, apakah yang perutnya kenyang aman dari serangannya..?? Bukan jaminan nyatanya. Lha terus harus bagaimana?? Ruang manakah yang mampu meredam nyala-nyala kecil itu agar tidak menjadi pembakar yang nyata?

Topo ngrame..!
Kenalilah dirimu … ada sang jenderal yang tersisih. Jika kita arif bijaksana tengoklah dia. Dialah satrio piningit yang sebenarnya… yang bersembunyi di kehalusan dan kebenaran hakiki. Jenderal wingking yang bengek dan selalu tertindas.. jamus Kalimosodho yang digenggamnya sering (bahkan kebanyakan) tidak terhunus. Jamus yang kemilau itu sekarang karatan ..!! Suaranya hanya keras di makna saja… setan-setan disertir itu bahkan tidak pernah menggubrisnya. Bweeh…!! Tatanan ini sudah terbalik-balik .. mengingkari kodrat penciptaan.

Sang jenderalpun lunglai duduk dipojokkan ruang sidang melihat tingkah polah prajurit-prajurit kecilnya jingkrat-jingkrak mempermainkan tongkat komandonya yang kian rapuh. Sementara pertanggungjawaban itu beringsut mendekatinya... dari waktu ke waktu.

** Topo Ngrame = Bertapa di keramaian. menahan nafsu dalam kehidupan sehari-hari.
** wingking = belakang
( Essay ringan disela-sela kesibukan ... Mohon maaf jika belum sempat membalas kunjungan anda.)
Read More..

12 May 2009

Kenali Dirimu


Menerawang, mencari-cari di setiap sudut langit… adakah yang bersemayam di balik awan atau di antara benda-benda langit yang berserakan itu?
“Kenalilah dirimu.... niscaya engkau akan mengenal tuhanmu.”
Ajarkan aku ilmu yang bisa membimbingku, walau “hanya” untuk mengenal diriku sendiri.
Realitanya ada yang kurang... ada yang hilang..., bukankah manusia merasa paling tahu dirinya masing-masing...? Tapi ada yang terlepaskah, kenapa tak kutemukan Mu di wajah-wajah itu?
Di maqam apakah bersemayam dalam diri, eksistensi Mu? Di balik kesadaran, bersama kesadaran atau dipermukaan kesadaran?

Di deru keramaian kota... tak ada yang menyadari kehadiran-Mu....
Di hingar-bingar penggusuran koloni (yang tidak mereka kehendaki) adakah hawa-Mu? Sementara tangis dan teriakan frustasi membumbung mencoba menembus batas langit dan jendela kaum pragmatis.
Adakah Kau ciptakan suatu kaum dan makhluk yang fungsinya sebagai “Tak Berguna”?

Dan di antara deru mesin buldozer yang pongah, orang berseragam itu tidak pernah menganggap Engkau ada di sana. Bahwa yang mereka nistakan itu bukankah milik-Mu juga? Apakah doa dan permintaan mereka ter-pending ke haribaan-Mu?

Sementara aku tengah transenden memandang sinar kemilau itu tanpa mampu berpaling.

Di padang golf, di lantai ribuan anak manusia yang melayang kalap mandi temaram sorot lampu gemerlap, di kamar-kamar hotel, di kurusetra, dan di ruangan sidang ...Eksitensi-Mu tak pernah dianggap ada. Yang ada hanya gumpalan-gumpalan nafsu yang menggelegak. Tawa liar itu seakan bisa hidup sepanjang jaman... dan semakin jumawa jika bisa mengambil posisi berseberangan dengan-Mu.
“Prek..!! Masa bodoh dengan hukum dan larangan itu..!!”
Ah.., kenapa harus malu pada diri sendiri...?
Kenapa juga harus malu pada orang lain...? Peduli setan..!!
(doh) Kenapa tidak peduli kepada Kemahaan-Mu.. Yaa Bashiiru... Yang Maha Melihat.

Gema itu masih menggetarkan sendi-sendiku... menukik di ketidak-mampuanku rata. “Kenalilah dirimu.... niscaya engkau akan mengenal tuhanmu.”
Oh Gusti Engkang Murbeng Dumadi... bagaimana caranya merasakan-Mu ada di nadi? Ada di kalbu? Ada di kulit.....? Ada dihembusan nafas..?
Bagaimana caranya untuk malu kepada diri sendiri...?

Terkulai ku dihamparan sepotong kain ... bibir ini masih bergumam, “Ajarkan aku ilmu yang bisa membimbingku, walau “hanya” untuk mengenal diriku sendiri.” Bahkan untaian tasbih itu telah teronggok di lantai-Mu dari tadi.

Isi dunia ini semakin pongah.... Cuma merintih memohon dan memanggil-Mu “hanya” ketika mereka Kau beri sedikit bencana dan ujian.

***Mohon ampun beribu ampun... bagi kalian yang sudah bersusah payah menganugerahiku PR, karena sampai saat ini belum sempat untuk menggarapnya, lain waktu pasti daku garap kawan. Terima kasih***
Read More..

05 May 2009

Belajarlah Seadanya...

Pantulan kemilau hari pendidikan nasional di mata seorang bapak

Pendidikan yang baik bukan milik kita nak…. Bapak ndak mampu, maafkan ya nak…
Belajarlah seadanya… tentang hidup, tentang tata susila, tata krama.. Bapakmu bekerja mengais sisa dan sampah mereka…. Tapi yakinlah anakku… yang bapak berikan kepadamu adalah mutiara yang cemerlang di mata Tuhanmu.

Belajarlah seadanya… tentang jiwa juang.. tentang harga diri.. tentang kesucian hidup… Semua itu bebas kamu pelajari anakku… bergurulah kepada-Nya. Mengajilah kepada guru sejatimu, yang tidak memungut bayaran sepeserpun.
SPP yang harus kau bayar hanyalah keikhlasanmu saja.

Belajarlah seadanya… tentang kepribadian …. tentang kesederhanaan dan penerimaan yang tulus dalam ujian hidup-yang tidak tentu ujungnya ini. Belajarlah untuk tidak mengeluhkan nasib…anakku. Berdoalah saja jika engkau mempunyai keinginan di luar batas kemampuan bapak.. Ikhlaskan penantianmu. Jika memang hakmu maka pasti akan engkau dapatkan… namun jika belum, maka belajarlah lagi untuk bersabar anakku…. Bersabarlah sampai nyawamu terenggut sekalipun… karena hanya itulah yang bisa kita pertaruhkan di hadapan-Nya

Bapak tidak sedang mengalihkan masalah dan menghiburmu, tapi belajarlah mengerti tentang realita, dan banggalah menjadi manusia-manusia pilihan-Nya.
Kita terpilih untuk menjalani ujian yang tidak pernah kita tahu ujung-ujungnya ini .. anakku. Semoga kita tetap istiqomah memanggul keikhlasan yang kadang rapuh diterpa derita ini. Jangan pernah menyalahkan Yang Maha Pengasih… jangan pernah berpaling dari-Nya. Karena Dia selalu tersenyum bersama jiwa-jiwa yang tenang dan ikhlas menjalani ujian-ujian Nya.

Pendidikan yang baik dan modern itu bukan milik kita nak… Bapak belum mampu menyekolahkanmu di sana, di tempat yang katanya sangat baik untuk belajar. Belajarlah saja tentang kemandirian. Belajarlah untuk berdiri kokoh di kaki-kaki rapuhmu. Belajarlah mengatasi hidupmu sendiri, karena kelak engkau harus melakukannya sendiri tanpa bapak.

Buku pelajaran mahal harganya.. maka belajarlah pada buku semesta alam yang telah digelar-Nya… Jika kelak engkau – dikehendak-Nya memegang tampuk wewenang dan mengemban amanah, maka ajarilah kaummu… layanilah kaummu… kasihanilah kaummu, perlakukan mereka sebaik-baiknya di mata Tuhanmu .. bukan sebaik-baiknya di matamu.

Jangan tinggalkan mereka walau sejengkalpun.
Read More..

27 April 2009

Perbedaan Itu Indah



Ebony and ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, oh lord why dont we?




“Perbedaan itu indah”
Sekian tahun “dipaksa” menelan pengertian kecut itu dalam kepingan-kepingan syaraf memoriku. Nalarku berselingkuh! Dan masih saja kesulitan merestui pemahaman itu mengalir ke seluruh nadi dan mengintegral menjadi ilmu dlm jiwa… Perbedaan itu Indah… nalarku malah ngedumel..!! Kudapan keseharian kita memang menghidangkan kenyataan yang jauh berbeda, gegeran antar pelajar, huru-hara, amuk massa, bentrok aparat lawan aparat, anarkhisme… ancaman disintegrasi sampai perang antar negara semua adalah anak-anak kandung “Perbedaan”.

Masih terlentang di tengah derit tali penahan yang bersahutan. Mulai dari manakah ku harus menatah ulang… Bilakah saja ku mampu menyimak ragam perbedaan menjadi sesuatu yang indah… Harus dari tangan pemimpin yang adil dan mampu mengayomi semua perbedaan atau harus dari masing-masing pribadi yang “berkenan” belajar untuk arif menerima perbedaan… sebagai suatu anugerah yang agung….

Ego dasar manusia seakan tidak memberi ruang gerak yang cukup bagi mekarnya Perbedaan yang Indah. Basic Insting-nya gerakan kepentingan manusia mengarah pada “penyuapan” paksa azasi yang homogen. Sebuah kecenderungan. Dari hanya ingin diakui sampai keinginan untuk diikuti. Kesatuan dan penyatuan perbedaan nyatanya hanya diikat oleh seutas benang lembut “Kesadaran Berbangsa” selebihnya mewujud dalam sebuah bangunan “Tatanan Bernegara”.

Bukan “perbedaan” nya yang indah kalee….! Tetapi cara kita memandang dan kualitas penerimaan kita terhadap perbedaan itu lho!. Betul! Namun sadarilah.. penyatuan sudut pandang yang menggumpal dan memadat mempunyai ekplosifitas yang tak terkirakan. Berpotensi meluluh-lantakkan sendi-sendi keindahan dari perbedaan yang ( sementara ini ) sudah terbangun.

Samar nun di balik awan, Bhinneka Tunggal Ika bertengger membentang dari barat ke timur di tiang yang sewaktu-waktu bisa rapuh…
Siapapun yang kelak memegang estafet pemimpin … bijaksanalah menyapa perbedaan yang ada.. Adillah membelai kening keragaman rakyatmu.

Hitam… Putih… Merah… Biru… semua warna anasir pembentuk Negeri Selaksa Warna ini.
Read More..

19 April 2009

My Hero

Kawan-kawan maafkan atas postingan gak mutu ini...

Dia bukan seorang “Hero” , bukan juga sesosok “Malaikat” bagi semua orang…
Tapi bagi lembaran hidupku yang tidak seberapa ini… dia adalah “the real hero”
Dialah “malaikat” …. Dia membimbingku dengan “caranya”, dan baru ku mengerti setelah dia pergi jauh…


Ayah maafkan aku… perasaan jengkel dan tak terhitung ngedumelku, ketika dulu kau memarahiku… Sekarang setelah aku berdiri di posisimu “menjadi ayah” baru ku mengerti ternyata tidak gampang meluruskan “ranting yang bengkok”, kadang perlu ketegasan dan hegemoni seorang ayah… agar seorang anak nurut.
Baru kusadari… betapa seorang ayah pasti akan terbentur kabut galau jika melihat “pergaulan bebas” dan “mbambung” yang katanya demi “Kebebasan”... engkaupun risau jika anak-anakmu salah jalan.
Seorang anak kadang berlagak “biarlah kutentukan jalanku sendiri”. Sementara seorang ayah berkewajiban mengarahkan “buah hatinya” agar tidak salah jalan, karena akan diminta “pertanggung-jawabannya” kelak di hadapan Sang Pencipta yang telah menitipkan “amanah” itu.
Ternyata tidak semudah cara berpikir “seorang anak” dengan segala tuntutannya, untuk berdiri menjadi “seorang ayah”.
Aah .. maafkan aku ayah… semoga engkau mendengar dan saya yakin engkau di sana mendengar keluh kesah anak-anakmu.
Marahmu dulu adalah genangan kasih-sayang kepada anak-anakmu, agar berjalan lurus pada titian kebenaran.
Kerasmu dulu adalah “vision” dan tumpukan harap agar anak-anakmu siap mengarungi kehidupan yang keras ini.

Maafkan aku ayah….. diam-diam kupersalahkan engkau … ketika kemauanku berada jauh dari jangkauan kemampuanmu. Kini terasa sungguh betapa resahnya seorang ayah .. mendengar tangis dan rengekan anaknya yang belum mampu ia penuhi.

Ayah.. engkau memang tidak selembut ibu… tapi engkau telah membingkai watak kami.

Ayah dan ibuku... kalian adalah manifestasi kasih dan sayang ilahiah… pengejawantahan malaikat-malaikat itu, sari pati kasih semesta langit dan bumi yang selalu ikhlas memberi dan hanya menerima kotoran.

Kadang anak-anakmu terlambat menyadari betapa besar genangan cintamu.
Semoga engkau dan ibu tenang di sisi-Nya…
Terima kasih atas segala pengorbanan dan jerih payah kalian semoga Yang Mengutusmu menerima segala amal dan pengorbanan… serta mengampuni segala dosa ayah dan ibu.


Read More..

06 January 2009

Renungan Januari

Dari hasil berkunjung kesana kemari nengokin blog rekan2, di awal tahun 2009 ini rasanya booming dengan kalimat "Introspeksi Diri", atau setidaknya yang senada artinya dengan itu. Semua pingin ngeblog memanfaatkan moment pergantian tahun ini dengan cara mengkoreksi diri, menengok kembali, merenungi kembali semua langkah dan dinamika yang telah dilalui di tahun sebelumnya. Intinya pingin ngeblog menjadikan moment Tahun baru ini sebagai 'start line' kehidupan yang lebih baik..lebih tertata, mungkin juga lebih manusiawi...atau bahkan lebih maju di masa mendatang. Dan saya tergelitik juga untuk mencoba menengok ke dalam diri saya pribadi.....anggap saja ikut meramaikan euphoria Tahun baruan.

Saya lebih seneng menilik diri dari yang ringan-ringan saja. Beberapa hari ini aku berusaha jujur kepada diri sendiri...dan berusaha seobyektif mungkin menilai diriku sendiri, dan hasilnya..... wow ruaarrr biasa...!!  Ternyata .. setelah saya amati sendiri .. betapa kotor dan joroknya perasaan ini...!! Pernah dalam sehari saya berusaha menghitung berapa kali saya mikir jelek kepada orang lain.... busyet gak terhitung..!! Dari pagi keluar rumah untuk berangkat kerja sampai ke kantor saja berkali-kali mikir jelek dan ngumpat dalam hati kepada orang lain.. umpamanya saja,  lihat orang nyebrang jalan seenaknya ..spontan ngumpat! (dalam hati).., lihat orang naik motor kebut-kebutan .. sumpah serapah! (dalam hati), lihat orang mengemis di lampu merah, padahal jelas2 cacat fisik pun masih juga ngatain-ngatain jelek dalam hati..., angkutan kota yang tahu-tahu nyalip dan berhenti mendadak karena ada penumpang sehingga saya harus kaget dan ngerem .. sontak langsung ngumpat-ngumpat! yang kalo di turutin pasti ramai dengan sopir angkot tersebut.. belom lagi lihat pak polisi sedang nangkap seorang pengendara motor yang motornya gak pake spion.. pikiran saya langsung memvonis jelek ... Belum lagi di kantor berurusan dengan rekan sekerja..dengan bos yang kadang gak mau tew... duh selalu saja pikiran negatif dan memvonis jelek muncul di otak....

Aah... seandainya saja aku bisa dalam sehari terlewat tanpa emosi kepada siapapun..... dalam situasi seperti apapun, pasti nyaman hidup ini. Pernah juga kemarin ku coba untuk berusaha melihat kehidupan ini apa adanya tanpa melibatkan perasaanku..bisa sich! Tapi beraaat banget rasanya... karena sepertinya aku selalu berpikir "Aku ini lho yang paling bener!!"

Ternyata yang harus ku koreksi gak jauh-jauh dari diriku sendiri... letaknya ada di mata, telinga, pikiran, lidah, perasaan dan nalarku... sendiri. Ya tuhan aku gak pernah sadar bahwa perilaku2 negatif itu... akan membentuk karakter dan pribadiku.., bahkan yang paling ekstrim bisa memproduksi energi negatif yang bisa menjadi pangkal dari timbulnya penyakit dalam tubuhku.

Jadi ingat “The True Power of Water”nya Dr. Masaru Emoto, air yang di deketin ke lagu rock itu kristalnya kalah indah dengan yang dideketin ke lagu klasik atau di bacain doa. Lhah ... apalagi ini yang ku alami sehari-hari isinya cuma umpatan, ejekan, cibiran, dll - walo semua itu dalam hati saja .... bukankah dalam tubuh manusia itu sebagian besar terdiri dari zat cair? Trus kalo setiap hari isinya banyak ngumpat dan sumpah serapah gitu..apa ndak tubuh kita sendiri yang terima sampah? Duoh entah lah...! koq susah ya jadi orang yang netral tanpa harus selalu memvonis siapapun.

Read More..