30 May 2011

Silent Tempest

Dalam diam....
Kilatan-kilatan nasib selalu bergerak tanpa dapat diduga, meliuk resah.. melambung gempita.. lalu menukik pedih, kadang terbata-bata dalam gelapnya rasa .... Tiada satu pun yang dapat mendiktenya, naturally melenggang berlari dari waktu ke waktu menjadi dinamika yang alamiah, di mana manusia sering dibuat lintang-pukang olehnya, dan kalau pun seseorang merasakan ketukan-ketukan nasibnya sudah sesuai dengan keinginan diri, maka janganlah berbangga dulu bahwa seakan sang nasib telah bisa ditaklukkan, waspadalah. Karena selalu ada kerlingan kebenaran yang akan memfilter setiap luapan amarah, dan prasangka buruk, sedangkan nasib tetap terus melaju menggilas siapa pun bagai roda liar.


Dalam diam.....
Seandainya hari ini nasib membawaku bertemu matahari yang tidak secerah kemarin, maka jujur kukatakan bahwa aku merasa sangat kehilangan. Bahkan jika di malam-malamku nanti rembulan pun ikut-ikutan memalingkan wajahnya, maka bohong kalau itu tidak menorehkan luka yang mendalam di dentang nadi dan perasaanku. Segala yang telah terpahat di dinding waktu itu adalah guratan notasi irama yang kami ciptakan dan nyanyikan bersama. Tanpa tendensi apa pun waktu telah membantu merangkai tiap nada hingga menjadi lagu. Aku sering termangu, sebegitu berartikah senyumnya? Aku tak pernah merasa yakin pasti, namun ketika mulai teranyam jarak, serasa ada yang hampa menghujam di ruang tengah rasaku. Tapi seandainya palu telah diketukkan sekali pun, bukan berarti aku harus merengek pada desisan angin, menghiba pada gumpalan awan, aku akan tetap berdiri pada kaki-kaki kecilku sendiri di atas tanah ini. Satu lagi nasib telah melukis takdir yang tak mungkin dihapus.


Bagiku tidak ada yang abadi, karena rangkaian nada pun tidak pernah akan menjadi lagu yang merdu jika tanpa harmoni dan itu akan mudah sekali lesap hilang ditelan hembusan angin. Sebidang alasan yang tidak pasti telah mematik api kebencian, dan Aku sebenarnya tak pernah yakin, semudah itu menghakimi pagiku dengan segenggam murka. Bagiku tidak ada yang abadi, setiap saat nasib bisa saja menghentikan dinamika kenyataan, namun tidak pernah terbersit sedetik pun untuk menodai takdirnya dengan menikamnya dari belakang dan menodai harmoni kebersamaan ini dengan seutas rasa childish... karena sejujurnya aku begitu menghormati segala warnanya. Biarkan semua ini mengalir apa adanya, karena ada bagian-bagian yang tidak mampu aku kendalikan oleh kesadaranku sendiri.

Dalam diam....  
Jika merasa punya kedekatan dengan sesuatu maka waspadailah diri sendiri, karena ada kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam diri yang selalu berdesak-desakan siap mengacaukan warna hari dan mengebiri nalar serta logika. Dan yakinlah, bahwa bukan hal yang mudah untuk mengendalikan hidden desires yang menderu-deru menafikan segala norma dan etika, dan itu bakal menguras seluruh potensi kearifan dan membuat seseorang linglung membuat tergagap-gagap mengenali budi baik. Dan semua itu akan terpahat abadi di dinding-dinding waktu kami. Seharusnya ikhlaskan saja jika suatu saat kita harus "duduk cantik" menjadi penonton, bukankah lebih nyaman sebagai penyaksi tanpa harus memiliki.


Dalam diam.... 

Setiap langkahnya memercikan kobaran amarah, menusuk-menghantam bagai dentuman-dentuman yang meremukkan seluruh asa dan rasaku, sampai-sampai aku tak yakin bahwa aku adalah bagian dari ruang senyap ini. Walau pun aku berusaha menerima sesadar-sadarnya, namun pengadilan sepihaknya membuatku mengerang dalam diam  laksana mengulum bara api, terpelanting ke dalam lubang gelap dan sempit yang membuat sesak sungguh seluruh pandanganku lahir-bathin. Semesta rasa ini seperti mandul, terkulai di hamparan ketidak-jelasan sikapnya. Terkatung-katung di antara senyuman dan amarah, aku merasa sangat asing dengan pribadi yang selama ini ku kenal. Itukah sisi gelapnya yang selama ini "seakan" tertimbun dengan senyum kasihnya?

Dalam diam....  aku tetaplah aku yang berdiri di atas kaki-kaki kecilku sendiri, dan badai senyap ini tak pernah ku ijinkan memporak-porandakan damaiku terlalu lama...

19 komentarmu:

kips said...

Dalam diamnya membuahkan goresan yang bagus, sip!

irwan said...

diam itu emas

Meidy said...

tapi ya jgn diam terus... ayo update :)

soewoeng said...

diksinya hebad bos

kips said...

Sekedar penyambung tali silaturahmi barangkali berkenan menerimanya.
Silahkan dicek! http://kipsaint.com/isi/award-perekat-tali-kerabat.html

Miomimo said...

ping me please

solusi atasi migren yang aman said...

sangat bagus dan menyentuh sekali,,,
dalam diam aku termenung dan tersirat dalam benaku untuk bisa melakukan yang terbaik,,

suryaden said...

salam damai

Vie said...

dalam diam ... renungkanlah...

Yaz said...

diam itu emas :)

Mari berkomunitas di faceblog said...

diam itu emas, emasnya berpa karat yach khi khi

soewoeng said...

diksinya hebad... jooosss gandos watu atos

EKOSUHARTONO said...

Nice artikel

hezra said...

prosa lirik ya? lama sekali tak menulis yang macam begini.
ahh, kau memanggil rinduku berderak-derak saja dg tulisanmu ini kawan....

tabik,
hezra

Cara Membuat ada said...

Dalam diam ku...... :)

" SUKSES SELALU UNTUK SOBAT "

YOGI MARSAHALA said...

Blog dan artikelnya bagus, komentar juga ya di blog saya www.when-who-what.com

rockness said...

OMG ini tulisannya gw plg suka di bagian ini nih:
Dalam diam.....
Seandainya hari ini nasib membawaku bertemu matahari yang tidak secerah kemarin, maka jujur kukatakan bahwa aku merasa sangat kehilangan. Bahkan jika di malam-malamku nanti rembulan pun ikut-ikutan memalingkan wajahnya!!!!....

HEBAT!!!

obat alami darah rendah said...

oke juga nie sangat bagus dan sangat menarik nie,,,,,,

grosir sprei said...

info and arkikel thank you nice and useful blog, greetings and greetings successful blogger. thank you
sprei

Post a Comment

Yuk jadikan komentar sbg sarana untuk saling menyapa.