01 April 2011

RUNAWAY

Aku tidak sedang menghujat malam ketika aku termangu lama di tengah-tengah kerumunan mimpi, pun tidak juga sedang mencari-cari kesalahan sang rembulan yang mengintip dan mencuri-curi tahu warna perasaanku dari balik gerombolan awan masalah hidupku.

Aku bahkan tengah berusaha hening dari segala macam sebab akibat dan tengah kepayahan melepaskan diri sejenak dari buaian harapan dan ancaman kecewa yang malang melintang memenuhi tiap jengkal permukaan rasa yang kukecap.

Read More..

11 March 2011

Namamu

Maafkan ayah-ibumu nak... inginnya ayah memberimu nama yang paling indah dan paling bermakna, namun perbendaharaan kata ayah sangat terbatas. Ayah tidak mampu lagi mencari kata yang dapat mewakili dan menggambarkan betapa besarnya harapan dan doa ayah dan ibu terhadapmu. Inginnya ayah tidak sembarangan memberimu nama karena selain dirimu sendiri, maka NAMA adalah titipan orang tua mu yang akan mengikutimu kemana saja dan kapan saja di sepanjang hidupmu.

Read More..

05 January 2011

Salah Kaprah

Jangan berharap bisa lelap, karena malam masih terperangkap di pertengahan jalan becek dan licin tak berujung. Dingin sayu mengikat semua rasa jengah gerombolan-gerombolan penyakit sosial yang kian merebak memporak-porandakan semua alunan lullaby yang biasanya membuai. Beribu kutuk berhamburan mengotori embun malam dan memacu adrenalin dan jutaan emosi yang menyentak ubun-ubun. Membakar telinga....!! Kenyataannya belum ada yang bisa dipercaya dan diharapkan membersihkan pemerkosa-pemerkosa mimpi itu. Mimpi yang seharusnya milik bersama itu, mengapa harus mereka kangkangi sendiri? Mimpi tentang negeri yang serba prosperous, tanpa tangis aib dan derita nista.

Deras anginnya belum lagi stabil benar, jangan bongkar pematang-pematang itu, atau semua etika dan norma hidup akan tergilas oleh culasnya insting modern, yang serakahnya sudah blak-blakan tanpa malu sedikit pun. Sayangnya banyak yang merasa tertindas oleh gundukan-gundukan lurus yang terasa menjemukan itu, semua pada ketakutan jika sekat-sekat tanah itu ternyata berduri dan berubah jadi penjara nurani "komunitas itu".

Read More..

10 December 2010

The Choice

Terbebas dari belenggu penjajah kecil bernama "harap yang tak jelas" membuatku serasa bisa terbang bebas menembus batas cakrawala manapun. Nafas-nafas segar serasa menari di dedaunan hijau dan bunga-bunga penuh embun keyakinan. Ternyata, bermain-main dengan istana pasir di tepian ombak yang menggulung tiada pernah membuat nyaman perasaan. Andai saja matahari tidak terlalu lama tertutup mendung, pasti aku kan menyadarinya sedini mungkin untuk tidak menyia-nyiakan persepsi dan jatah waktu hidupku. Ketololan logikaku memang belum sepenuhnya menjadi sebuah kubangan lumpur, dan bersyukur saat ku temukan kini telah mengeras dan pecah-pecah sebelum mengotori seluruh baju dan keyakinanku. Ringan sekali, serasa menari di angin, langkah ini bergantian meninggalkan semua bayangan ilusi bersaput hidangan semu itu.

Kembali menengok ke belakang, bagiku tak lebih seperti menengok bangkai busuk yang terkemas kain sutera, dan aku sangat tidak peduli jika itu semakin membusuk sekali pun. Hahaha... dan aku kini menganggap semua itu seperti tidak pernah singgah di beranda rumahku! Bukankah setiap perjalanan selalu membutuhkan konsekuensi? Ada yang terus berjalan menggulung nafas kita dan setiap saat melambaikan tangan kawan, ada yang mesti dipertanggung-jawabkan selain mengejar buih-buih ombak yang tak pasti dan kosong belaka. Dan kuputuskan aku harus menjadi hakim bagi diriku sendiri, ketika dalam diriku ada dua kekuatan - sisi baik dan buruk mulai berebut kuasa. Yang haq tidak pernah bisa bercampur dengan yang bathil.Ternyata keindahan hakiki selamanya tidak pernah bersemayam di tumpukan desah-desah khianat.

Kenapa terus meratapi nasib dan terus berusaha lari dari kenyataan tanpa pernah berusaha untuk merubahnya persepsi diri?  Jika pagi hari - di awal-awal perjalanan sudah dilanda kepenatan jiwa dan menyerah kepada dorongan hasrat tanpa logika, lantas makna apa yang kelak akan dikenang menjadi sejarah hidup? Jadilah contoh seperti bunga-bunga yang indah dan wanginya luruh hanya untuk berkorban demi buah yang kelak meneruskan hidup speciesnya. Itulah hakekat perjuangan hidup! Sia-sia saja kau berteriak memohon belas kasihan, jika di belakang tingkahmu malah membakar benih-benih penerimaan yang selalu tumbuh itu.

Ah sudahlah, memang bukan hal yang mudah untuk melepaskan diri dari belitan kain kusam busuk yang seakan berhias intan itu. Dalam diri kita toh sudah terinstall pengalaman, naluri dan kebijaksanaan, di mana gabungan ketiganya itulah yang bernama ilmu hidup, selanjutnya denga ilmu itulah kita menentukan pilihan hidup. Ya pilihan hidup itu ada di tangan kita masing-masing, dan jika sudah memilih maka peliharalah seluruh tanaman di halamannya sampai ajal merenggut, karena ada kehormatan diri di balik pengorbanan itu. 

Selamat menikmat sepuas-puasnya jika ternyata kau masih merasa aman hidup diombang-ambing oleh si busuk bertampang manis itu, nikmati saja setiap hempasannya.... sesaat hidup di awang-awang dan terhempas ke batuan keras beberapa saat yang lain. Andai saja ada kesadaran bahwa kita tidak pernah bisa sempurna berpijak di dua lantai yang berbeda dan berseberangan itu kawan. 

What you give is you get! Jika kau tanam keladi maka jangan berharap kau panen padi, karena apa yang kau tanam adalah gambaran nyata apa yang akan kau panen. Read More..