
Masih ingat dulu setiap aku demam.. selalu dibilang oleh nenekku “Putuku arep mundhak akale” ( Cucuku mau pintar ). Dalam anggapan masyarakat dulu , jika seorang anak kecil demam berarti sedang mengalami proses berkembangnya daya pikir dan nalarnya…. Sangat gak nyambung dengan keilmuan yang berlaku… kalopun ternyata ada korelasinya.. saya pribadi gak tahu lewat jalur mana path-pathnya terhubung.
Gesekan-gesekan politis sudah mulai terasa memanaskan suhu iklim kehidupan berbangsa dan bernegara di seluruh penjuru NKRI. Pemilu adalah hajatan Demokrasi yang berpotensi men”demam”kan Negara ini, semoga “demam”nya gak berlanjut dan bisa mendewasakan dan kehidupan berdemokrasi dan bernegara.
“Cucuku mau pintar” adalah sarat dengan sugesti… tidak pernah terpikir bahwa demamnya bisa jadi karena infeksi dibagian organ dalam atau mungkin karena serangan virus tertentu.
Orang bodoh seperti nenek saya pun ternyata pandai mensugesti cucu-cucunya ketika “demam” agar tidak berlanjut menjadi penyakit yang gawat.
“Nenek mau potong ayam tapi cucu harus sembuh demamnya yaa..?” Biasanya aku pasti mengangguk riang …hahahaha dan herannya besoknya ketika ayam sudah tersaji di meja makan, demamku sudah hilang hahahaha….. Nenekku hebat….!
Merindukan sosok seperti nenekku yang bisa menghibur… menentramkan … mensugesti… pada sosok negarawan kita (saat ini) ternyata gak mudah..!! Bangsa ini ternyata tengah mengalami krisis sosok Negarawan.
Kupilah-kupilih siapa ya.. orangnya
Adakah tokoh bangsa ini (saat ini) yang layak berdiri menjadi seorang negarawan yang suaranya didengar oleh semua lapisan bangsa, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun partainya? Dia bukan sosok pemimpin.., bukan sosok kepala, bukan sosok ketua partai, namun dia sosok yang ditaati, didengar, dan ditunggu nasehatnya.. bahkan oleh seorang presiden sekalipun.
Demam sudah melanda seluruh ruang dan sudut rumah kita ini… “Bangsaku mau pintar” ah semoga tidak ada gesekan yang menimbulkan percik anarkis semprul dan memicu perpecahan di dalam rumah ini.
Semoga Pemilu mendatang ini semakin mendewasakan alam pikir bangsa Indonesia… Jangankan dalam satu Negara ..dalam lingkup terkecil “keluarga” pun kadang ada perbedaan dan gesekan-gesekan kepentingan.
Semoga Bangsaku semakin “mundhak akale” dan memahami bahwa pesan-pesan demokrasi harus dicerna dalam batas-batas kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai gedibal saya cuma bisa urun doa semoga negaraku tetap damai agar tidak menambah anggota daftar orang sakit di Asia, dan semakin menambah munculnya bajingan2 kecil gentayangan.
Apapun Partainya .. Indonesia juga Bangsanya…!!



