12 November 2009

Decadence

Sentuhan angin akhir-akhir ini terasa menusuk pori-pori ketentraman, padahal yang ku ingat di setiap hembusannya selalu membuai nyaman.

Di luar langit merah merona, di sini, di tiap-tiap bilik dan serambi terdengar kasak-kusuk dan terlihat muka-muka tegang. Harap maklum…. di ruang utama bangunan peradaban kita ini tengah terjadi gelar perkara perseteruan antar saudara sekandung. Air kendi pun tak menyegarkan lagi karena hidup mereka tak sederhana lagi. Bahkan menjadi sangat rumit, ketika masing-masing mereka berusaha menjatuhkan saudara-saudaranya sendiri... Di langit arak-arakan mega kelam tak beraturan saling tabrak satu sama lain mencoba menterjemahkan kerisauan hati seorang ibu yang menahan isak tangis nelangsa bersimpuh di lapangan bola. Lebih memilih buta daripada melihat anak-anaknya bercerai-berai, lebih memilih tuli daripada mendengar anak-anaknya saling menghardik... Anak-anaknya saling menghujat dan saling menjatuhkan, adalah pemandangan yang sangat menikam dan mencabik perasaan hatinya yang renta. Semakin mencekam… saat hawa panas yang muncul dari medan perseteruan itu mulai membakar rumput-rumput kehidupan, dan memanggang apa saja, bahkan masuk sampai ke lorong-lorong teduh kasih sayang seorang ibu. Eksistensi seorang ibu sebagai sumber cinta dan kehidupan, perwujudan kasih sayang tuhan yang tidak pernah mereka gubris....

Dari segala penjuru mulai menyebar tak terkendali bau-bau busuk mental yang bobrok bercampur dengan aroma keculasan yang menyengat! Ternyata lebih busuk baunya dari aroma segunung sampah. Sehingga para gedibal negeri reptil yang biasa bercengkrama dengan bau busuk itu pun tak mampu juga menahan aroma busuknya perilaku mereka yang mengaku dirinya titisan kemuliaan. Kaum pinggir itu pun lehernya tercekat karena muak dan tak mampu menelan makanan yang dikunyahnya. Segala kebobrokkan itu membuat isi perut mereka berontak.. Ingin muntah! Karena anggota-anggota keluarga yang tengah berseteru itu sebetulnya sering memadankan keinginannya sebagai sebuah kesempatan, kemudian menghalalkan segala keserakahannya. Mengacuhkan janji amanahnya sendiri yang pernah diucapkan saat pengangkatan sumpah jabatan. Apakah berita keculasan ini sudah sampai di meja sidang para dewa-dewa? Entahlah….

Pundi-pundi dharma itu masih tersimpan rapat di balik awan… di antara bintang-bintang, karena para dewa-dewa kelihatannya sedang enggan menabur kebaikan akhir-akhir ini. Mereka setiap waktu hanya geleng-geleng kepala berjamaah.. Terheran-heran! Sungguh berani makhluk yang bernama manusia itu, masing-masing bersumpah atas nama Tuhannya untuk sesuatu yang sebenarnya berwarna abu-abu, bahkan hanya agar terlepas dari jeratan jeruji hukum… Kemudian merangkai berkarung-karung dalih dan demi gengsi kelompoknya! Pseudo-confession..!

Tak sadar bahwa hukum-Nya tidak bisa dipelintir seperti hukum manusia.. karena cetak birunya sudah mengalir dan ada sejak sebelum peniupan sekali pun.

Di sini, di belahan tanah gersang warisan nenek moyang tengah tergolek setumpuk pasal dan ayat kumal yang sudah sobek-sobek ujung-ujungnya. Bekas-bekas finger print yang menempel di sana-sini itu nyata-nyata berasal dari tangan-tangan kotor. Semakin hancur ketika langkah-langkah harta-tahta-wanita ikut menginjak-injaknya rata dengan tanah. Darah kami mengalir dalam geram, ada yang mengganjal di dada kami - kaum yang dikibuli bertubi-tubi.

Kapal ini selayaknya sarang tikus rakus yang masing-masing memikir perutnya sendiri… sedangkan kami para gedibal masih saja tekun mengayuh dayung agar tumpah darah ini tetap berjalan mengantar generasi demi generasi bangsa ke setiap perhentian masa. Dasyatnya badai dan bencana tak menyurutkan semangat bhakti kami… namun tingkah polah sesama saudara yang tengah bertikai itu telah memporak-porandakan ruang kemudi dan itu sangat menyebalkan. Lantas kemana Nahkoda kami?

Trance…? Ah bukan…! Panik..?Ya, typically….. semua kalang kabut saling menelanjangi! Sekuat tenaga berusaha bersembunyi di balik kedok masing-masing! Jari-jarinya asal-asalan menunjuk kesana-kemari, sedangkan kaki-kakinya sibuk mencari-cari pijakan pasal dan ayat yang berserakan di lantai yang kian panas itu. Sementara mulutnya mengoceh asal bunyi.. menebar bau dusta kemana-mana.

Di luar langit semakin memerah… di sini isi bumi masih belum tenang dari gejolak… di sini harga-harga semakin melonjak… di sini pengangguran semakin meningkat.. di sini biaya pendidikan membikin sekarat. Dekadensi moral menghantam semua lapisan.... Tak terkecuali para calon intelektual.
Tetapi…..
Tembok tebal birokrasi itu telah mengangkat mereka menjadi manusia sombong… Wewenangnya telah membutakan matanya…
Jabatan yang disandangnya telah membuatnya lupa daratan,
hari-hari berlalu seperti pesta.

Mereka mengibuli kami lagi…. Dan sekarang memaksa kami untuk melihat pentas drama yang mereka mainkan. Bukan menghibur! Malah semakin memuakkan.

Tit.. tit.. tuit jreng! Damar mati muliho…….


55 komentarmu:

meylya said...

fast reading kih om belom ngeh maksudnya hehe

xitalho said...

Woke Mey... no problemo

Terima kasih...

sibaho way said...

dan kita belum tahu, apa yang mereka mainkan sekarang ini hanya reality pop show contekan dari tipi-tipi. kita tonton saja kawan :D

pakne galuh said...

drama episode dramatis negeri ini masih lebih memuakkan daripada cerita sinetron yang sengaja di panjang-panjangkan

bluethunderheart said...

selamat malam bang
aku suka dan blue suka banget dengan postingan ini bang
salam hangat selalu
oya,tokoh di postingan blue ambil dari nama abang.......jangan marah y
salam hangat selalu

suryaden said...

panggung penuh tipu daya dan keculasan itu memang bisa mengharubirukan jutaan perasaan dan otak, tapi apakah mereka tahu juga ketika haru biru, emosional dan puncak kemarahan itupun sudah diset sedemikian rupa sehingga pada akhir pentas adalah "mak plenyik"

bwahahaha... jaman edan, ora edan ora kumanan, luwih bejo wong sing eling lan waspada...

mau-maunya deh dimainin roman picisan macam ginian... wakakaka... hancurkan...

suryaden said...

macam begitu maksudku... woahahaha

itempoeti said...

justru ketika intelektualitas menjadi benchmark... maka moralitas tak lagi punya tempat dalam kehidupan ini...

Love4Live said...

bangsa ini telah mencapai titik nadirnya...
krisis terbesar yang menimpa bangsa ini adalah krisis moral dan mental...

senoaji said...

iki do ngopo juee??

genthokelir said...

wah ngeri juga yah perseteruan sekandung yang masih tergelar di sana
ikut prihatin dengan opera yang di pertontonkan

phonank said...

Bangsaku oh bangsaku...

walaupun kau hancur lebur aku tetap kan mengakuimu sebagai bangsaku,,

bis nya kalo gak gtu, tar kena cekal.. hehe

Seno said...

Semua mereka bilang demi rakyat, demi rakyat, demi rakyat. Memangnya mereka korupsi demi rakyat juga ya:(, Kecerdasan mereka dalam mengotak-atik UU sebagai topeng benar-benar membuat menjadi warna yang kelabu, bahkan hitam :(

namaku wendy said...

nahkodanya yah awake dewe to, wis susah ngarepke orang lain.

bangkit..bangkit..bangkitlah *bangkit dari tidur, dah siang inih hehehe sambil semprot2 air freshner untuk mengenyahnya aroma tak sedap*

SMP Negeri 4 Ngawi said...

ternyata hanya drama toh??

Mengembalikan jati diri bangsa said...

Apakah ini sama dengan penurunan moral suatu bangsa?? Sungguh ndak faham sob..

Rita Susanti said...

"Tak sadar bahwa hukum-Nya tidak bisa dipelintir seperti hukum manusia.. karena cetak birunya sudah mengalir dan ada sejak sebelum peniupan sekali pun".

Semua tingkah polah mereka termasuk kita telah terekam dengan sangat lengkap dan sempurna dalan catatan NYA, dan suatu saat kelak semua itu akan diperlihatkan sebagai bukti di Mahkamah Pengadilan TUHAN...Ampuni dosa-dosa kami ya Rabb...

attayaya said...

pentas dramanya salah setting
menjadi lebih kaco

mamah aline said...

pentas politik hanya panggung sandiwara, entah kapan endingnya selesai

endar said...

semoga ini adalah salah satu tahapan untuk menjadi bangsa yang lebih baik. dimana saat ini dimulainya era transparansi dan hal hal yang kurang sedap mulai diketahui masyarakat luas..

sepur said...

kita semua sudah muak dengan peran - peran menjijikkan yang mereka lakonkan, ufff.... mau jadi apa jadinya negeri ini.

ami said...

begitulah kalau duit dijadikan mata. maksude mata duitan :(

dasir said...

Melihat bla bla bla
Menimbang bla bla bla
Memutuskan,
Cut cut cut..
Yang cerius dong actingnya..
Mantab sob essaynya.. Tp g bs menimpali. Salam

yanuar catur rastafara said...

kita, menurutku nih,
hanya dijadikan peran tambahan dalam sinetron mereka kayaknya
hehehehe
piss kawan

rudis said...

keserakahan dan moral telah melanda negeriku, mantab tenan kang

Andy MSE said...

jujur wae.... mbaca ini saya bingung... rasane kaya-kaya pengin mbalik ning jaman mbiyen sing ijo royo-royo... tata tentrem kerta raharja...

Andy MSE said...

mikirke ndonya sing tambah maju tambah ruwet marai mumet...
tapi, bagaimanapun juga harus dihadapi...
semangat...

gaDIS said...

Waduh saya kok nggak mudeng ya ma yang dikarepno... :D

rahasia yang terabaikan said...

wah2.....kayak parodi...."Sentuhan angin akhir-akhir ini terasa menusuk pori-pori ketentraman...." kalimat pembuka yang bagus bgt....membuat pengen mengetahui tentang apa sih sebenernya tulisan ini...dan ternyata cukup menarik...salam kenal bang....kehormatan klo abang mau mampir ke blog saya yang masih belum sempurna itu.....saya tunggu ya bang....

Linda Belle said...

jadi yg kita tonton di tipi itu sinetron ya?
ckckckkck pantesan aku tak suka menontonnya haahhaa...

KangBoed said...

Hahahahaha.. Krisis Multi Dimensi melanda.. Kiamat sudah terjadi dalam diri Manusia.. sayang sedikit sekali manusia yang menyadarinya.. dan segera bebenah diri
salam sayang

KangBoed said...

RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

sawali tuhusetya said...

narasinya indah, mas xit, meski mendedahkan sesuatu yang tragis dan menyayat. dekadensi moral yang berlangsung di negeri ini sesungguhnya berawal dari para petinggi yang sudah gagal membendung nafsu dan naluri purba-nya. makin repot.

annosmile said...

ndang balio sri..
lho..
wekeweke..

suwung said...

kapan berakhir?

cebong ipiet said...

aku fast reading :ngaku: xixixiixix utekku ra tau nyandak nek dijak umung sing bermetafora ngunu

SanG BaYAnG said...

Panggung-panggung opera yang pentaskan perang saudara ene semoga cepat berakir sebab hanya menguntungkan media belaka..,sementara gedibal-gedibal negri bayangan hanya bisa berimaji sebatas kemampuan membayangkan..sambil menunggu siti sing lg lungo ngaji..ckxkxkx..

Anas said...

Memang godaannya cuma Harta tahta dan Wanita.. Payah.

kips said...

Tulisannya berat jg ya, biarpun belum ngerti maksud postinganya yang penting silaturahmi deh :-D

KangBoed said...

:roll: juragannya kamana nyaaaak

KangBoed said...

RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllll

KangBoed said...

lah dekadensi moral melanda kehidupan

mbah cokro said...

r u sue....
ngapain aja nih.....

mamah aline said...

betul-betul prihatin dan ironik yah

rahasia yang terabaikan said...

aq datang lg teman.....karena bel;um ada kalimat indah dalam postingan terbaru...maka aq komen di sini lg.......terimakasih atas kedatanganya ya......aq jd seneng tambah temen...

afdil said...

Lagi berpuisi atau sedang berkeluh kesah akibat kena tipu oleh seseorang mas?

Btw, mohon maaf jika melenceng dari diskusi yang sebenarnya.

ada AWARD untukmu sobat

Silahkan diambil di blog saya dan dikonfirmasi. salam sukses dari pecinta SEO Jambi

Job Review said...

wakh puisinya keren...bacanya langsung secepat kilat nih

putra said...

Keren banget puisinya Om. Panjang lagi.

Erik said...

Drama belum berakhir, seperti apa endingnya?

bluethunderheart said...

malam
ayo bang semnagat lagi ok
salam hangat selalu

Edi Psw said...

Semoga bisa menjadi lebih baik lagi.

paijosakti said...

lha dalah...malah soyo ngene...soyo ra ngenah ngene...soyo SU..sah ngene..
salam......suwun

rha-k said...

Ojo pateni KPK. Jangan bunuh POLRI.
Koruptor yg HARUS MATI!

Ijin kopas tuk diseminasi di milis ya gan..

tips beli rumah said...

gambarnya kurang bagus menurut aku......kurang menarik karena cara ngambil nya yang salah...

URCCMMA said...

kug ga mudenk ya :-s

Post a Comment

Yuk jadikan komentar sbg sarana untuk saling menyapa.